Ngabuburit di Artjog

“Aku kalau punya uang lima puluh ribu mending buat nonton film.” Begitu komentar temanku pas aku cerita aku habis ke Artjog. Sepanjang perjalanan pulang, kata-katanya terngiang dan diam-diam aku mengiyakan. Mungkin memang mending nonton film kalau buat orang yang sejatinya gak nyeni-nyeni banget macam aku.

Dua kali aku kena tegur petugas di Artjog. Pertama saat aku terlalu dekat dengan sebuah karya instalasi berjudul Kenyung karya seniman bernama Suranto. Karya ini berupa tumpukan batu bata mini yang disusun berbentuk meliuk-liuk. Semalaman teringat karya itu, aku jadi bersyukur keburu diingatkan oleh Mas Petugas di Artjog. Gak kebayang kalau aku sampai menyenggol karya itu.

IMG_20170611_125953
Kenyung karya Suranto

Kedua, aku diingatkan soal cara menikmati sebuah karya lukisan karya seorang seniman asal Bandung. Duh, aku lupa namanya. *cry. Lukisan-lukisan itu ditata di sebuah ruangan kecil. Aku diingatkan karena udah selangkah masuk ke ruangan itu. Kata Mas Petugasnya, lukisan itu pakai teknik opaque sehingga kalau diliat dari dekat ga kelihatan bagus. Aku cuma manggut-manggut menahan malu. Menurutku lukisannya tetap bagus saat dilihat dari dekat pun.

Saat aku cerita soal kena tegur ini kepada temanku yang lain, dia berkomentar, “Kayak anak alay yang datang ke museum.” Deg. Padahal aku sebel banget saat di Artjog banyak anak-anak muda yang sibuk foto-foto, sampai bikin orang lain ga bisa menikmati karya seni yang mereka pakai sebagai latar belakang foto. Aku kualat, kali, ya, karena bersikap sok.

 

Sejujurnya aku sebel sekaligus mengagumi pengunjung yang sibuk foto-foto macam ini. Sebalnya karena kadang mereka menghambat pengunjung lain untuk menikmati karya yang jadi latar belakang foto mereka. Misalnya di salah satu karya seni berjudul Silent Prayers karya Mulyono Magus. Ada tiga orang cewek yang asyik foto-foto di situ, yang bikin pengunjung lain kurang bisa menikmati karya yang dipajang dalam sebuah ruangan sempit itu, termasuk aku. Kagumnya karena, mereka ini pede banget, ya, foto-foto di tempat umum kaya gitu, dengan berbagai gaya pula. Soalnya, jujur, aku enggak.

Ceritanya hari Minggu kemarin, mumpung aku mau buka bersama di Jogja, aku mampir ke Artjog. Artjog adalah pameran seni tahunan di Jogja yang berlokasi di Jogja National Museum. Tahun ini Artjog memasuki tahun kesepuluhnya. Acara ini sendiri diadakan mulai tanggal 19 Mei sampai 19 Juni 2017. So, aku sengaja minggu ini bikin postingan 1 Minggu 1 Cerita di awal-awal pekan, supaya siapa yang tertarik bisa menyempatkan ke Artjog sebelum berakhir tanggal 19 Juni nanti.

Untuk menikmati, atau sekadar melihat, atau berfoto dengan begitu banyak karya seni keren di Artjog, pengunjung dikutip tiket seharga Rp50.000,00. Tiket ini termasuk voucher yang bisa ditukarkan dengan sebuah Pigma Micron di Pontiarte di daerah Bugisan. Tiketnya mahal? Tergantung, sih. Ya, balik lagi ke kalimat pertama tulisan ini. Kalau memang kurang tertarik dengan ajang semacam ini, ya, bisa jadi uangnya lebih baik dialokasikan buat bentuk hiburan lain. Meski gak paham-paham amat dengan karya yang dipamerkan, aku pribadi akan bilang, harga tiketnya sepadan dengan apa yang bisa dinikmati di sana.

Ada 73 seniman lokal dan luar negeri yang berpartisipasi dalam pameran ini. Mungkin salah satu yang paling memorable adalah Wedhar Riyadi dengan karyanya Floating Eyes yang menyambut pengunjung di depan Jogja National Museum. Aku lupa betul sama deskripsi karyanya. Jadi deskripsi berikut adalah “kenanganku” pada karya ini. Floating Eyes berupa bola-bola mata dengan warna mencolok. Dan bagiku, mengingatkan pada karakter ayahnya Kitaro yang berupa bola mata bertubuh manusia di anime Ge Ge Ge No Kitaro. Wedhar Riyadi ini adalah commission artist di Artjog tahun ini. Aku coba cari apa maksud dari commission artist ini di internet, tapi ga ada arti bahasa Indonesianya. Mungkin semacam seniman yang disponsori kegiatan ini? CMIIW.

20170611_140850~2
Floating Eyes karya Wedhar Riyadi

Selain pameran ada juga program-program lain macam Curatorial Tour, Meet the Artist, juga penampilan langsung dari beberapa seniman di panggung yang ada di belakang ruang pameran. Ada juga Merchandise Shop buat yang pengen beli beberapa karya seni yang keren-keren. Untuk jadwal dan informasi lain, termasuk rute bus, bisa dilihat di situs www.artjog.co.id. Situsnya sangat membantu, kok.

Beberapa karya favoritku di Artjog:

20170611_125313~2
EVE 4.1. (Eve Project Series) karya Jabbar Muhammad 
Jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Eve.
20170611_132157~2
Restlessness of Staring at the Future karya Samsul Arifin 
Menurutku dalam apresiasi karya apa pun, penikmatnya bisa bilang bagus atau suka pada suatu karya karena ada keterhubungan dengan karya itu. Ini yang aku rasakan pada karya ini. I am also restless staring at the future.

Season in the Abyss  karya Jim Allen Abel
Feels so magical as well as depressing. Melihat karya ini bikin aku merasa masuk ke alam mimpi, terasa ajaib sekaligus menyedihkan. Karya ini adalah wujud penghormatan kepada korban dan keluarga korban jatuhnya pesawat Adam Air beberapa tahun silam. Bentuk karya ini berupa gambar yang pantulannya dilihat di beberapa benda, ember, tong, yang ada cerminnya di bawahnya.

Terakhir, untuk merangkum semua, aku akan bilang, gak semua karya seni bisa aku pahami. Namun, aku pribadi menikmati melihat karya-karya seni di Artjog. Menarik melihat bagaimana ekspresi ide bisa sangat beragam. Hal mengesankan lain, pengunjung Artjog cakep-cakep banget. Petugas-petugasnya juga. Setidaknya ada beberapa yang kayak gitu. Menyenangkan!

Curhat:
Mau cerita hal nyesek soal 1 Minggu 1 Cerita. Kemarin aku udah upload tulisan, tinggal nyetor ke web 1 Minggu 1 Cerita, eh, malah ketiduran. Dan baru bangun jam 23.59. Alhasil aku gagal setor cerita 23. 😦

Senggang Bersama Batik Solo Trans

“Nanti pulangnya naik Go-Jek, ya, La.” Begitu pesan adikku pas nurunin aku di stasiun. Aku cuma mengacungkan jempol. Naik Go-Jek emang enak, tapi aku punya rencana lain.
Aku gak bisa mengendarai motor. Bisa, sih, tapi jiper duluan liat jalanan dan perilaku para pengguna jalan. Plus malas. Jadi, kesimpulannya, anggap saja gak bisa.

Parahnya, aku orangnya kolot. Konservatif. Susah beradaptasi. Dalam hal ini memanfaatkan Go-Jek. Bukan masalah bakal boncengan sama yang bukan mahram, melainkan soal rasa nyaman. Aku masih belum merasa nyaman kalau harus bepergian pakai Go-Jek. Mungkin karena takut diculik. Mungkin karena keadaan belum memaksa.

Jadi, ya, selesai urusan di stasiun, aku milih pulang naik bus. Tepatnya Batik Solo Trans, atau yang biasa disingkat BST. Aku naik dari depan Stasiun Balapan untuk ke arah timur. Rencana awalku aku akan naik sampai daerah Panggung, lalu menyeberang, dan naik bus yang menuju daerah rumahku. Untuk memastikan, aku bertanya kepada Mbak Kondektur apakah benar bus yang kutumpangi lewat Panggung. Dan Mbak Kondektur mengonfirmasinya.

Nyaris semua kursi terisi saat aku naik. Beruntung ada beberapa penumpang yang turun tak lama setelahnya. Aku duduk di bagian depan, sambil lihat jalanan. Sambil mengenang jalan yang dulunya aku lewati saat masih SMA. Tiba-tiba di dalam bus aku kepikiran untuk ikut bus itu sampai pemberhentian terakhirnya, yaitu Terminal Palur. Kalau aku googling, jauhnya ternyata cuma sekitar 8 km. Deket juga ternyata.

Menurut situs Dinas Perhubungan Kota Solo, BST diluncurkan sejak tahun 2010 oleh Joko Widodo yang waktu itu menjabat sebagai walikota Solo. Awalnya cuma ada dua koridor, hingga sekarang berkembang menjadi delapan koridor. Setahuku semua armada BST dilengkapi dengan AC. Jadi adem. Meski yang aku naiki tak seadem yang kukira. Bagian interiornya menurutku nyaman dan bersih. Mirip dengan Transjakarta atau Transjogja. Sekali naik, penumpang dikutip tiket Rp4500, sedang pelajar Rp2500.

Aku sendiri mengapresiasi perkembangan angkutan umum ini. Jalurnya jelas, busnya bagus, bebas pengamen, dan cukup murah. Mungkin, kekurangannya, menurutku, adalah jam operasional bus ini yang ga sampai malam. Kupikir seru juga kalau bisa sampai malam seperti TransJogja maupun TransJakarta.

Setelah menempuh perjalanan kurang dari setengah jam. Aku kurang memperhatikan karena asyik melihat jalan. Bahkan tak sadar kalau penumpangnya tinggal aku dan seorang bapak. Aku sampai di Terminal Palur. Terminal Palur, menurutku relatif kecil dan sepi. Ini yang bikin aku cukup kaget. Perasaan dulu pas SMA terminalnya lumayan rame.

Karena aku enggak ada agenda lain, aku langsung kepikiran mencari bus yang bisa membawaku pulang. Bingung sebentar, aku memutuskan bertanya kepada mas-mas berseragam DAMRI. Katanya aku bisa naik bus yang diparkir di sebelah kiriku. Oke. Aku tiba-tiba kepikiran, lhah, aku naiknya bisa langsung naik atau nunggu busnya ngetem, ya? Aku beranikan diri nanya lagi. Masnya kayaknya lagi ribet, sampai bilang “Apaaa, Mbaak?” sebelum jawab pertanyaanku. Geli sendiri kalau mengingatnya.

Pulangnya aku naik Koridor 3 yang lewat Pasar Kliwon. Sama seperti perjalanan berangkatnya, tak banyak penumpang saat aku naik bus pulang. Dan aku bisa duduk di kursi depan. Seru, sih, tapi tiba-tiba aku pusing. Yah, aku baru ingat kalau aku rentan mabuk darat. Untung bus lekas sampai ke halte terdekat rumahku.

So, agar postingan kali ini sedikit membawa manfaat, berikut jalur dan peta Batik Solo Trans.

rute-Koridor-1-BST
Sumber: Google Images

Koridor 1 (Bandara Adisoemarmo-Palur) Bandara Adisoemarmo-Terminal Kartasura-Jl. Ahmad Yani-Jl. Slamet Riyadi-Jl. Jendera Sudirman-J;. Urip Sumoharjo-Jl. Kol. Sutarto-Jl. Ir Sutami-Terminal Palur.

Terminal Palur-Jl. Ir. Sutami-Jl. Kol. Sutarto-Jl. Urip Sumoharjo-Jl. Kapten Mulyadi-Jl. Veteran-Jl. Bhayangkara-Jl. Radjiman-Jl. Wahidin-Jl. Slamet Riyadi-Jl. Ahmad Yani-Terminal Kartasura-Bandara Adisoemarmo.

Koridor 2 (Kartasura-Palur) via Terminal Tirtonadi Terminal Kartasura – UMS – Solo Square – Stasiun Purwosari – Gendengan – Lap. Kota Barat – Mall Solo Paragon – Monumen Pers – Stasiun Balapan – RS Triharsi (Jl. Monginsidi)- SD Cemara 2 – SMAN 1 – Hotel Asia – RSUD dr. Moewardi – UNS – Jurug – Terminal Palur – PP

Sekolah-sekolah yang dilewati bus jalur ini adalah: SMA Batik 1, SMAN 1 dan SMAN 2 Surakarta, SMK Kristen, SMP dan SMA Warga. Dengan dioperasikannya BST Koridor 2 ini, maka operasional bus kota yang selama ini melayani rute Kartasura – Palur akan dicabut.

Koridor 3 (Palur-Kartasura) via Pasar Klewer Terminal Palur-Jl. KH Maskur-Jl. Ki Hajar Dewantara-Jl. Kol. Sutarto-Jl. Urip Sumoharjo-Jl. Jenderal Sudirman-Pasar Klewer-Jl. Radjiman-Jongke-Makamhaji (Jl. Slamet Riyadi Kartasura)-Terminal Kartasura

Terminal Kartasura-Makamhaji (Jl. Slamet Riyadi Kartasura)-Jongke-Jl. Radjiman-Baron-Jl. Bhayangkara-Jl. Veteran-Jl. Kapten Mulyadi-Jl. Mayor Kusmanto-Jl. Jenderal Sudirman-Jl. Urip Sumoharjo-Jl. Kol Sutarto-Jl. Ki Hajar Dewantara (dihilangkan)-Jl. KH Maskur-Terminal Palur

Koridor 4 (Kartasura-Solo Baru) Terminal Kartasura-Jl. Adi Sucipto-Jl. Dr. Moewardi-Jl. Yosodipuro-Jl. Gajah Mada-Jl. Honggowongso-Jl. Veteran-Jl. Brigjen Sudiarto-Jl. KH Wahid Hasyim-Bundaran Pandawa Solo Baru

Bundaran Pandawa-Grogol-Jl. Brigjen Sudiarto-Jl. Veteran-Jl. Yos Sudarso-Jl. Slamet Riyadi-Jl. Jenderal Sudirman-Jl. Ronggowarsito-Jl. Dr Soepomo-Jl. Yosodipuro-Jl. Dr. Moewardi-Jl. Adi Sucipto-Terminal Kartasura

Koridor 5 (Mojosongo-Solo Baru) Mojosongo-Jl. Brigjen Katamso-Jl. Urip Sumoharjo-Jl. Jenderal Sudirman-Jl. Mayor Sunaryo-Jl. Kapten Mulyadi-Jl. Veteran-Jl. Yos Sudarso-Bundaran Pandawa Sulo Baru

Bundaran Pandawa-Jl. Yos Sudarso-Jl. Veteran-Jl. Kapten Mulyadi-Jl. Mayor Kusmanto-Jl. Jenderal Sudirman-Jl. Urip Sumoharjo-Jl. Brigjen Katamso-Mojosongo

Koridor 6 (Kadipiro-Semanggi) Subterminal Kadipiro-Jl. Kol Sugiono-Jl. Kapten Tendean-Jl-Ahmad Yani-Jl. S. Parman-Stasiun Balapan-Jl. Gajah Mada-Jl. Honggowongso-Jl. Veteran-Jl. Kyai Mojo-Subterminal Semanggi

Subterminal Semanggi-Jl. Kyai Mojo-Jl. Veteran-Jl. Honggowongso-Jl. Dr. Radjiman-Bundaran Baron-Jl. Bhayangkara-Jl. Slamet Riyadi-Jl. Gajah Mada-Stasiun Balapan-Jl. S. Parman-Jl. Ahmad Yani-Jl. Kapten Tendean-Jl. Kol Sugiono-Subterminal Kadipiro

Koridor 7 (Palur-Solo Baru) Terminal Palur-Jl. Ir Sutami-Jl. HOS Cokroaminoto-Jl. Surya-Jl. Urip Sumoharjo (dihilangkan)-Jl. Jenderal Sudirman-Jl. Ranggawarsita-Jl. Yos Sudarso-Jl. Veteran-Jl. Brigjen Sudiarto-Jl. KH Wahid Hasyim-Bundaran Pandawa Solo Baru

Bundaran Pandawa-Jl. KH Wakhid Hasyim-Jl. Brigjen Sudiarto-Jl. Veteran-Jl. Yos Sudarso-Jl. Slamet Riyadi-Jl. Jend. Sudirman-Jl. Urip Sumoharjo-Jl. Surya-Jl. HOS Cokroaminoto-Jl. Ir. Sutami-Terminal Palur

Koridor 8 (Palur-Kartasura) Terminal Kartasura-Jl. Adi Sucipto-Jl. MT Haryono-Jl. Ahmad Yani-Terminal Tirtonadi-Jl. S. Parman-Jl. Monginsidi-Perempatan Panggung-RS Dr. Oen-Jl. Tentara Pelajar-Jl. Ki Hajar Dewantara-Hl. KH Maskur-Terminal Palur

Terminal Palur-Jl. KH Maskur-Jl. Ki Hajar Dewantara (dihilangkan)-Jl. Tentara Pelajar-RS Dr. Oen-Perempatan Panggung-Jl. Monginsidu-Jl. S. Parman-Terminal Tirtonadi-Jl. Ahmad Yani-Jl. MT Haryono-Manahan-Jl. Adi Sucipto-Terminal Kartasura.

 

 

My Picks: Adegan-Adegan Favorit dari Drama Goblin

Aku termasuk telat nonton Goblin (judul lengkapnya Goblin: The Lonely and Great God [versi Wikipedia] atau Guardian: The Lonely and Great God [versi Asian Wiki]). Dan jujur awalnya aku termasuk orang yang, “apaan sih” sama drama Korea (drakor) ini. Tapi ternyata aku harus menelan omonganku sendiri, karena drakor ini, bagus!

Dalam mitologi Korea, dokkaebi, yang kemudian diterjemahkan secara bebas sebagai goblin, adalah makhluk gaib yang sering berbuat jahil, tapi bisa membawa keberuntungan dan kekayaan. Penampakannya pun sebenarnya seram. Namun, dalam drama Goblin, sosok dokkaebi digambarkan sebagai pria berusia tiga puluhan tahun yang ganteng, pintar, memiliki selera seni yang tinggi, dan kaya raya. Sosok ini diperankan oleh Gong Yoo yang makin tua makin ganteng sahaja.

Goblin.png
Ki-Ka: Lee Dong Wook (Malaikat Pencabut Nyawa), Yoo In-na (Sunny), Sung-jae (Yu Deok-hwa), Gong Yoo (Goblin/Kim Shin), Kim Go-eun (Ji Eun-tak)

Dalam drama ini, goblin adalah seorang jenderal bernama Kim Shin yang dikutuk hidup abadi dan baru bisa mengakhiri kutukannya setelah pengantinnya muncul dan mencabut pedang yang tertancap di dadanya. Nah, pengantin goblin dalam drama ini bernama Ji Eun-tak (diperankan oleh Kim Go-eun), gadis berusia 19 tahun. Menjadi pengantin goblin membuat Ji Eun-tak bisa berkomunikasi dengan hantu.

Selain tokoh goblin, dalam drama ini ada juga tokoh malaikat pencabut nyawa. Namanya juga drama, malaikat pencabut nyawanya juga cakep banget. Tokoh malaikat pencabut nyawa ini diperankan dengan sangat apik oleh Lee Dong-wook.

Goblin terdiri atas 16 episode. Dan episode terakhirnya mendapatkan rating paling tinggi sepanjang sejarah TV kabel yang menayangkannya, TVN. Di antara ke-16 episode tersebut, aku punya beberapa adegan yang sangat berkesan buatku.

 

  1. Kisah Bromance Goblin dan malaikat pencabut nyawa

Karena keisengan Deok-hwa (keponakan goblin), malaikat pencabut nyawa menyewa rumah goblin yang sebelumnya Deok-hwa kira akan kosong selama pamannya ke luar negeri. Alamiahnya kedua makhluk ini berseberangan. Tapi, seiring berjalannya waktu jadi makin dekat dan ternyata masa lalu keduanya berhubungan.

Menurutku, selain kisah cinta goblin dan pengantinnya, kisah bromance goblin dan malaikat pencabut nyawa lah yang paling mencuri perhatian dari drama ini. Berantem-berantemnya, saling usilnya, curhat-curhatnya, simply loveable.

  1. Aksi Malaikat Pencabut Nyawa

Dalam drama ini, si malaikat pencabut nyawa beraksi dengan menjemput roh dan membawa mereka ke sebuah ruang teh. Di sana, si malaikat pencabut nyawa akan ngasih secangkir teh yang fungsinya untuk menghilangkan ingatan orang-orang mati sebelum nanti ke dunia orang mati.

goblin 3

Buatku adegan saat si malaikat pencabut nyawa bekerja sangat menarik. Mungkin karena sedikit banyak nunjukkin tentang perasaan manusia yang kompleks, mulai dari pasrah, sedih, sampai rela. Salah satu yang paling berkesan adalah saat malaikat pencabut nyawa “mengantar” seorang tuna netra. Saat akan masuk ke dunia orang mati, bapak tuna netra ini disambut gonggongan anjing. Rupanya anjing itu adalah anjingnya yang dulu menuntunnya. Dan si malaikat pencabut nyawa bilang, “dia ga enak ninggalin kamu sendiri.” Adegan ini, sedih sekaligus heart-warming kalau menurutku.

 

  1. Kencan Malaikat Pencabut Nyawa dan Sunny

Di drama ini, malaikat pencabut nyawa jatuh cinta dengan seorang perempuan cantik bernama Sunny. Saat sedang tidak “bertugas” malaikat pencabut nyawa punya karakter yang canggung, kompetitif, dan polos lain dengan karakternya yang dingin saat sedang bekerja. Gaya kikuk ini yang bikin tiap malaikat maut ketemu Sunny jadi menggemaskan. Misalnya saat dia memilih menghindari Sunny karena ga punya nama. Atau menemui Sunny sekadar untuk bilang dia ga punya agama. (Kok, bisa malaikat ga punya agama? Entahlah)

goblin 6

  1. Kelulusan Ji Eun-tak

Adegan ini sangat berkesan buatku. Di tengah kegembiraan teman-temannya yang dikelilingi keluarga, Ji Eun-tak kelihatan salting karena cuma dia yang sendirian. Hingga dewi kelahiran (diperankan Lee-el) yang berwujud wanita cantik berpakaian dan bermake-up serba merah, muncul dan memberinya ucapan selamat. Terus si dewi ini bilang, “when I was blessing your mom with you, I was happy.” Menurutku kalimat ini menjelaskan alasan Ji Eun-tak lahir di dunia. Secara umum yang macam ini yang aku sukai dari drama-drama Korea maupun Jepang. Ga jarang disisipi dengan hal-hal filosofis.

goblin 9

  1. Kematian Yu Shin-woo

Yu Shin-woo adalah pelayan setia goblin yang mengurus semua kekayaan dan perusahaan milik goblin. Keluarga Yu Shin-woo melayani goblin secara turun-temurun, jadi buat si goblin Yu Shin-woo adalah keluarganya.

Adegan kematian Yu Shin-woo ini terasa mengesankan karena di bagian ini diperlihatkan sisi enggak enaknya jadi abadi. Terlebih goblin sendiri dikutuk tidak akan bisa melupakan kematian siapa pun yang mendahuluinya. Dalam rangkaian adegan kematian Yu Shin-woo, ada adegan ketika goblin menangis, dan Ji Eun-tak bilang, “Jadi begini, ya, rasanya menjadi abadi.”

goblin 8

Satu kutipan lain dari rangkaian kematian Yu Shin-woo adalah, “Apa saja bisa disesali di hadapan kematian.” Goblin bilang begini waktu si malaikat pencabut nyawa mengusulkan mereka memberi tahu cucu Yu Shin-woo (Yu Deok-hwa) bahwa kakeknya akan meninggal.

Secara keseluruhan, buatku Goblin punya formula lengkap untuk menjadi sebuah drama sukses. Dan, ya, emang sukses. Pemainnya cakep-cakep dan cantik-cantik, dilengkapi dengan gaya berpakaian yang, aduh, keren banget. Ceritanya menarik dan bagus. Meski fiksi, buatku, nyaris ga ada yang janggal dari ceritanya. Aku bilang nyaris soalnya kalau pun ada yang terasa wagu, tertutupi oleh akting dan cakepnya Gong Yoo dan Lee Dong-wook. Menurutku, sih. Jadi, ya, Goblin ini semacam must-watch Korean Drama.

Ekstra: Lagu pengiring favorit

Drama Korea setauku selalu diiringi lagu pengiring yang ciamik dan bisa melengkapi serta mendramatisasi tiap momen di dalamnya. Dan untuk Goblin, pilihan lagu favoritku ada pada lagu berjudul Who Are You yang dinyanyikan Sam Kim. Lagu ini menceritakan janji seseorang bahwa dia akan mengingat dan mengenali kekasihnya jika suatu hari nanti mereka akan terlahir kembali. Setidaknya begini yang aku tangkap. Lagu dan cara nyanyinya Sam Kim bagus banget menurutku, dan yang bikin aku kagum, Sam Kim sendiri baru berusia 19 tahun! Tapi penghayatan lagunya, aduuuh… bikin baper.

Sam Kim-Who Are You

 

 

Ziarah Ke Bioskop

index
Sumber: Google

Awal tahun 2017 lalu, eh apa akhir 2016, ya? Pokoknya aku sempat kepikiran tahun ini mau nonton lebih banyak film di bioskop. Kesampaian, sih, nonton pemutaran film Ghibli dua kali. Hahah. Biasanya ada aja alasan untuk ga nonton. Termasuk melewatkan Istirahatlah Kata-Kata beberapa bulan lalu.

Mei ini rencananya, rencananya, mau nonton Critical Eleven. Tapii … belum jadi juga. Sampai akhirnya kemarin kepikiran mau nonton Ziarah. Dan entah kenapa akhirnya malah jadi nonton Ziarah hari ini. Mungkin salah satu sebabnya aku belum nemu bahan buat cerita minggu ini di blog. Sebab lainnya, ternyata Ziarah setting-nya di daerah dekat tempat KKN-ku dulu. Tiba-tiba aku jadi pengen nonton, deh. Mumpung masih ada juga di bioskop di kotaku. Aku dengar film ini bahkan ga diputar di Jakarta dan beberapa daerah lain.

Aku merasa keputusanku buat nonton hari ini tepat. Jujur aku khawatir minggu depan film ini sudah ga tayang lagi, sih. Ini bukan doa, lho. Soalnya tadi aku nonton cuma dibarengi beberapa penonton saja. Mungkin ga sampai sepuluh orang.

Dari hasil googling, aku mendapatkan informasi kalau Ziarah ini mendapatkan beberapa penghargaan di luar negeri. Salah satunya menjadi pemenang Film Terbaik Pilihan Juri di ASEAN Film Festival tahun 2017. Bahkan pemeran utamanya, Mbah Ponco Sutiyem mendapatkan nominasi aktris terbaik di ajang yang sama. Sejujurnya, aku bukan tipe orang yang akan nonton film yang banyak menang penghargaan seperti Ziarah ini. Bukan apa-apa. Cuma aku bukan tipe “cintai karya anak bangsa”, dsb. But, let’s give it a try.

Ziarah menceritakan perjalanan dan keinginan Mbah Sri yang diperankan Mbah Ponco Sutiyem untuk mencari makam almarhum suaminya yang bernama Pawiro Sahid. Mbah Pawiro Sahid ini ceritanya pejuang yang dikabarkan gugur pas Agresi Militer Belanda II tahun 1949. Awalnya dipercaya kalau almarhum Pawiro Sahid dimakamkan di Taman Makam Pahlawan. Namun, Mbah Sri dapat firasat dan informasi kalau almarhum suaminya dimakamkan di tempat lain. Mbah Sri lalu menelusuri keberadaan makam suaminya. Sebab Mbah Sri punya cita-cita dimakamkan bersebelahan dengan almarhum suaminya.

Mbah Sri punya cucu namanya Prapto. Ceritanya Prapto sedang menjalin hubungan dengan seorang gadis. Prapto sudah berencana melamar gadis ini, yang tidak disebutkan namanya, setauku. Namun, karena kepergian Mbah Sri, Prapto, diceritakan belum jadi melamar pacarnya. Prapto jadi harus mencari Mbah Sri yang suatu hari pergi tanpa pamit.

Pencarian makam Mbah Pawiro Sahid jelas ga gampang. Bahkan ternyata dugaan bahwa Mbah Pawiro Sahid gugur karena ditembak Belanda, ga sepenuhnya benar. Mbah Sri harus muter-muter nyari. Naik turun bus. Jalan berkilo-kilo meter. Gemes aku nontonnya. Gemes, gemes sedih gitu. Simbah, kan, sudah sepuh, alias tua, banget. Aku jadi inget almarhum nenekku yang dulu semasa hidupnya pakai jarik (kain) batik seperti Mbah Sri.

Aku begitu terhanyut sama perjalanan Mbah Sri, sampai-sampai kaget sendiri dengan plot twist-nya. Ga nyangka. Dan trenyuh juga. Karena ujung pencariannya ga sesederhana menemukan makam. Plot-nya yang smooth dan enggak terduga ini bikin aku mikir, pantas kalau film ini dapat penghargaan skenario terbaik versi majalah Tempo.

Selain gemes dengan perjalanan Mbah Sri, aku juga menikmati pemandangan indah yang jadi latar belakang cerita dalam film ini. Perbukitan berkabut, waduk yang aku ga tahu apa namanya, juga hutan jati yang gersang. Jadi kangen Jogja, kan? Padahal Jogja ya ga segitunya.

Kesimpulannya, filmnya bagus. Meski aku baru bisa merasakannya setelah sampai rumah. Setelah baca beberapa ulasan soal makna di balik filmnya. Tapi, ya, bagus. Kalau masih ada di bioskop kota kalian, sempatkanlah untuk menonton.

 

Mengenang Mei

Waktu reformasi pecah tahun 1998, aku masih kelas 5 SD. Cukup besar untuk tahu dan mengingat apa yang terjadi, tapi masih terlalu kecil untuk paham apa yang sebenarnya terjadi, dan mengapa. Jadi, ya, aku masih ingat beberapa kejadian dan suasana waktu itu. Ketika tanggal 12 Mei lalu linimasa Twitterku ramai oleh cerita orang-orang tentang Mei ’98, aku jadi ingat lagi beberapa kejadian di waktu itu.

Aku jadi ingat lihat langit yang memerah karena terbakarnya Matahari Beteng dari lantai dua rumah tetanggaku. Juga ingat saat itu bapakku yang bekerja di Palur, harus pulang jalan kaki karena ga ada kendaraan umum dan diberlakukannya jam malam. Palur itu sekitar 10 km dari Solo. Juga ingat waktu itu listrik dipadamkan. Jadi ya, kebakaran akibat kerusuhan itu terlihat semakin jelas.

matahari beteng
Sumber dari Google Images, Matahari Beteng saat pecah kerusuhan Mei 98 di Solo

Juga penjarahan. Beberapa tetanggaku ikut menjarah, entah dari mana. Beberapa dari mereka juga menjual sisa-sisa sepeda motor yang dibakar kepada bapakku yang profesinya memang jual beli barang bekas. Namun, bapakku lekas diingatkan oleh tetanggaku yang lain untuk ga menerima bangkai-bangkai motor itu. Takut ada masalah nantinya.

Dari perspektif aku yang sekarang, saat itu terasa mencekam dan ngerik. Bahkan saat nulis ini aku merasa ngeri. Tapi enggak buat aku di waktu itu. Bahkan beberapa hari setelah pecah kerusuhan, aku masih sempat jalan-jalan sama adik-adikku, melihat sisa-sisa kerusuhan di daerah Coyudan yang merupakan salah satu sentra niaga di Solo.

Membaca-baca lagi artikel tentang peristiwa itu, juga cuitan orang-orang yang jadi korban kerusuhan Mei 98 di Twitter bikin aku ngeri sendiri sekarang. Kalau aku mengutip bebas dari seorang selebtwit, betapa waktu itu kita bisa begitu kejam sama saudara sebangsa sendiri.

Sejauh yang aku amati, sekarang peristiwa itu makin tak diingat. Mungkin salah satu indikasi yang aku pakai adalah seliweran ucapan orang di medsos yang dengan enteng bilang mau mengulang kerusuhan 98. Atau pembenaran pada peristiwa itu. Buat aku yang sekarang, ungkapan-ungkapan macam itu jahat. Namun, aku masih maklum kalau itu keluar dari orang yang lahir di tahun 90-an  atau malah di tahun 98 masih bayi, mungkin mereka sama kayak aku, ga benar-benar paham apa yang terjadi juga dampaknya. Namun, kalau itu keluar dari orang yang jauh lebih tua, kok, ya, kebangetan. Mengutip ungkapan di Twitter yang kadang pedes, mungkin saat ada pembagian otak, orang itu “bolos”.

Sepertinya selepas tahun ini, buatku Mei punya tempat istimewa. Bulan yang akan aku kenang sebagai bulan terjadinya peristiwa yang membuktikan bahwa kekejian dan kerakusan manusia kadang tak ada batasnya.

By the way, aku bukan aktivis dan tidak terlibat gerakan politik mana pun. Dan catatan ini juga sebagai catatan dan pengingat buatku. Siapa pun yang baca ini boleh setuju atau tidak. Tapi aku berharap kita bisa bersepakat kerusuhan Mei 98 tak perlu terulang lagi.

Lolongan Serigala dan Kasih Tak Sampai

Pertama kali dengar soal Big Bad Wolf pada tahun 2016, aku berjanji dalam hati akan meluangkan waktu, dan uang untuk mengunjunginya. Lalu, kalau ga salah di bulan Oktober, BBW malah digelar di Surabaya. Relatif lebih dekat, sih. Tapi setelah aku hitung-hitung, biaya transportasinya lumayan besar. Maklum, aku masih enggan kalau harus naik kereta ekonomi. Akhirnya aku pakai jasa titip untuk ikut belanja di BBW. Namun, hasilnya ga memuaskan. Aku ga mendapatkan buku-buku incaranku. Kupikir, memang kalau BBW ini harus datang sendiri. Biar puas. Ini akhirnya jadi semacam janji buat diriku sendiri. Bahwa aku akan ke BBW. Apa pun yang terjadi.

Lalu, kudengar kalau BBW akan digelar lagi di ICE BSD akhir April sampai awal Mei. Namun, setelah menimbang-nimbang, aku memutuskan membatalkan keinginan untuk ke sana. Pun tak lagi pakai jasa titip. Toh aku masih punya setumpuk buku yang belum kubaca. Seriously, BBW ini kenapa enggak bikin di Jogja aja, sih? Aku yakin bakal laku keras.

Namun, kalau Tuhan sudah berkehendak, apalah daya manusia. Tanpa disangka aku malah ditugasi kantor untuk ke sana. Yes, ke BBW. Naik pesawat lagi. Tapi aku ga nyiapin wishlist atau semacamnya, sih. Selain bingung mau beli buku apa, aku juga bingung karena ini pertama kalinya aku ke BBW. Plus aku ke sana di hari terakhir. Kupikir paling ya, udah tinggal sisa-sisa bukunya.

Oh iya, sekilaf info, BBW atau Big Bad Wolf ini acara bazar buku impor di mana pengunjungnya bisa membeli buku-buku impor dengan harga murah. BBW diadakan selama 24 jam nonstop tiap harinya. Setauku BBW juga diadakan di Thailand dan Malaysia. Aku sudah coba googling sejarahnya, tapi kok nda ketemu. Konon di BBW tahun ini, panitia mendatangkan 5 juta buku.

Aku sampai di ICE BSD sekitar pukul 9an. Saat itu pengunjung BBW masih sedikit. Masih relatif sepi. Dan venue-nya gede banget. Sejauh mata memandang hanya terlihat buku. Am I in heaven?

20170502_093351

Meski bukan kutu buku, melihat tumpukan buku impor membuat aku senang sekaligus sedih. Senang tak terkira karena melihat begitu banyak buku dari segi jumlah maupun jenisnya. Sedihnya karena … ini benar-benar ujian buat aku dan dompetku.

Ada banyak sekali jenis buku yang dijual di BBW. Mulai dari novel sastra, sampai dengan berbagai jenis buku desain dan referensi, seperti kumpulan informasi dan fakta sejarah. Dan aku lemah pada jenis yang kedua. Menyenangkan sekali melihat macam-macam buku desain dan nonfiksi yang berisi berbagai fakta dan informasi unik. Terlebih harganya cukup murah. Konon diskon di BBW besarnya sampai 80%.

Isi oke, harganya pun oke. Namun, ga berarti aku langsung membelinya. Sebab aku ga bawa banyak uang waktu itu. Dan aku bingung karena semua kelihatannya “beli-able”. Buatku ini semacam kasih tak sampai. Dan sedihnya, hampir di tiap tumpukan jenis-jenis buku, ada saja yang aku taksir. Kadang lebih dari satu. *kray

20170502_115819
Belum lihat isinya, tapi kok covernya imut, ya?
20170502_125614
Ini juga.
20170502_125740
Selalu tergoda dengan judul semacam ini.
20170502_094629
Atau yang begini. Buku lain di tumpukan ini sama menggodanya.
20170502_130143
Adakah yang berpikir, kayak begini aja dijadiin buku?
20170502_120551
So tempting.
20170502_125819
Salah satu buku yang akhirnya aku beli. Maybe because I wish I could go to Tokyo someday.

Secara keseluruhan, aku cuma empat jam di BBW. Sebentar, sih, tetapi memberikan aku gambaran serunya BBW. Serunya melihat berbagai jenis buku yang “beli-able”. Juga mengamati bagaimana hasrat akan ilmu pengetahuan dan berbelanja orang-orang di ibukota. Baru kali ini aku melihat orang berbelanja buku hingga bertroli-troli. Dan satu hal yang begitu berkesan buatku adalah usaha yang dikeluarkan oleh orang-orang yang membuka layanan jasa titip. Aku melihat sendiri mereka dengan tekun memilih, memfoto, menyortir buku, yang kuduga merupakan titipan. Salut pada mereka yang kreatif memanfaatkan momen ini.

Aku akhirnya membeli beberapa buku. Sepertinya kebanyakan malah buku lokal yang juga dijual dengan harga sangat murah. Lagi-lagi tumpukan bukuku bertambah. Aku benar-benar harus meluangkan waktu untuk membaca.

20170502_131310
Dari buku Penguin in Love karya Salina Yoon. Sudah dilihat-lihat, tetapi urung dibeli. Namun, kata-kata penutupnya terlalu menggoda.

 

Yeay! Naik Pesawat

Pengalaman pertama selalu mendebarkan. Apalagi buat orang yang pada dasarnya gampang cemas dan mikiran seperti aku. Ada banyak sekali pertanyaan dan kecemasan setelah tahu aku akan naik pesawat ke Jakarta tanggal 2 kemarin. Pertanyaan mulai dari bisakah aku bawa makanan ke pesawat, sampai akankah aku lolos pemeriksaan di bandara kalau aku bawa jarum pentul?

Juga kecemasan seperti telat berangkat ke bandara (aku berangkat pakai pesawat paling pagi, jam 6.10) sampai cemas kalau pesawatnya gagal landing. Yeah, silly, I know. But I just cant help it. Bahkan saat nulis ini aku masih merasakan sisa-sisa kecemasan itu. Tapi, ya, tiket sudah dibeli. Dan ini perjalanan dinas yang harus aku lakukan. Pasrah aja, cyin.

Jadilah tanggal 2 Mei kemarin aku dapat tugas dari kantor untuk ke Jakarta, naik pesawat karena tiket kereta sudah ludes terjual. Sebagai bagian dari persiapan, (*rolled eyes), aku bertanya ke teman-temanku yang pernah naik pesawat soal apa yang harus dan tak boleh dilakukan saat naik pesawat, tata cara check in, menukarkan tiket, dan apa pun yang ingin aku tanyakan. Teman-temanku memberikan panduan yang sangat amat membantu, meski ada seorang yang bilang, “ya ikuti aja semua tanda di bandara.”

Tak ketinggalan, riset di Google. Semua ini cukup menenangkan. Entah kenapa pada dasarnya aku cukup tenang menjelang penerbangan perdana ini. Udah males mikir kali, ya. Pasrah. Omong-omong, salah satu artikel yang sangat membantu aku temukan di sini.

tata cara naik pesawat

Aku berangkat dari Solo naik penerbangan paling pagi. Kekhawatiran utamaku adalah …. ketinggalan pesawat. Untungnya aku tak sendiri. Meski teman seperjalananku juga baru pertama kali naik pesawat. Agar praktis aku putuskan menginap di kosnya agar esoknya kami bisa berangkat bareng ke bandara. Bangun pagi-pagi buta, kami berangkat sepagi mungkin ke bandara.

Aku kira bandara bakal rame di pagi hari. Ternyata … sepi. Konter maskapai penerbangan juga belum buka. Kami lalu shalat Subuh dulu baru check in. Gugup? Iya. Bingung? Lumayan. Tapi selalu ada orang yang bisa ditanyai di bandara. Meski waktu itu kami ga nanya juga, sih. Soalnya dari konter kami langsung diarahkan ke pintu masuk ke bagian dalam bandara buat check in.

Pertama-tama, lewati sensor pemeriksaan di bandara. Alat sensor logam sempat menjerit saat aku lewat. Mbak-mbak petugas di sana minta aku menaruh HP di conveyer belt. Aku jadi ingat cerita temanku yang diminta melepas ikat pinggangnya saat melewati pemeriksaan semacam ini. Pemeriksaan pertama, beres. Kami menukarkan tiket dan check in. Nunjukin e-tiket yang sudah dicetak dan KTP. Prosesnya cepat karena enggak pakai antre. Kami pun masing-masing dapat selembar tiket. Tiketnya cuma selembar kertas kecil tipis, bahkan lebih tipis dan kecil dari tiket kereta api. Sayangnya aku lupaaa ga moto tiketnya. Huhuhu.

tiket

By the way, di saat ini aku sadar pentingnya KTP. Sebelum aku harus beberapa kali bepergian, KTPku ya ngendon aja di dalam dompet. Kini, aku tahu bahwa KTP sangat penting. *brb, nyari KTP.

Selesai check in, kami masuk ruang tunggu. Sebelumnya ada pemeriksaan dengan alat pendeteksi logam lagi. Namun, kali ini aku tentu sudah berpengalaman dengan meletakkan HP di conveyer belt. Dari ruang tunggu, aku bisa melihat pesawat yang sedang disiapkan. Aku jadi ingat dengan drama Jepang jadul yang pernah kutonton tentang kehidupan seorang pilot, judulnya Good Luck. Perasaanku pun campur aduk antara ngantuk, lapar, gugup, dan sedikit perasaan nostalgia. Juga terharu, tersentuh karena akhirnya aku akan naik pesawat!

dari ruang tunggu

Setelah nunggu sekitar setengah jam, kami diminta masuk ke pesawat. Tiket dicek lagi. Petugas yang berjaga di gate mengarahkan kami untuk masuk lewat pintu belakang karena nomor tiket kami termasuk yang paling belakang. Di bagian dalam pesawat, seorang pramugari sudah menyambut dan … memeriksa tiket kami lagi.

Kesan pertama waktu masuk ke pesawat adalah … pesawat itu kayak bus yang besar. Saat itu pesawat yang kami tumpangi jenisnya Boeing 737. Ga terlalu besar, ya. Kami duduk sesuai nomor. Sejujurnya tempat duduknya sempit, ya, penerbangan kelas ekonomi, sih, ya. Duduk di kursi, kencangkan sabuk pengaman, dan aku sempat lihat matahari terbit lewat jendela. It was splendid.

Tak lama pesawat mulai berangkat. Petugas di dalam pesawat mengingatkan kami untuk mengencangkan sabuk pengaman juga menutup meja lipat. Lalu, aku merasakan pesawatnya bergerak. Mundur dulu, muter, lalu bergerak pelan dan makin cepat. Butuh waktu beberapa lama dari pesawat bergerak pelan hingga akhirnya pesawat mulai lepas landas. Rasanya aku bisa merasakan tiap gerakan pesawatnya. Dan seiring dengan gerakan pesawatnya, perasaanku makin ga karuan. Rasanya senang bercampur haru. Takut? Iya, dikit. I was so excited!

Pesawat perlahan naik. Dan, ya, pemandangan dari atas bagus banget. Di awal penerbangan, pramugari memeragakan panduan keselamatan. Sayangnya aku duduk di bagian tengah belakang, jadi ga bisa lihat langsung. Sebagai anak yang insecure, aku menyimak baik-baik panduannya. Juga baca dari kartu petunjuk yang ada di kantong di depanku. Di penerbangan pulang, karena duduk di bagian tepi dan agak tengah, aku melihat dan menyimak baik-baik peragaan dari pramugari. Dan rasa-rasanya cuma aku yang menyimak setekun itu sampai melongokkan kepala dari tempat dudukku.

Sunrise.jpg

Aku pikir tak mudah jadi pramugari. Pertama, mereka harus pakai sandal berhak. Sandalnya matching dengan bajunya, by the way. Dan aku enggak merasa seragam mereka cukup nyaman dikenakan di tempat yang mengharuskan mereka bergerak dengan cekatan. Rok sepan berbelahan tinggi. Bukankah lebih enak kalau pakai celana panjang saja? Meski, tentu mereka sudah terlatih melakukannya. Kedua, mereka harus terus bersikap ramah dan helpful. Meski capek. Aku lihat itu waktu penerbangan pulang. Ketiga, mereka juga harus membantu menaikkan kopor dan bawaan penumpang yang aku yakin pasti ada yang berat banget. Ah! Hidup pramugari!

Kekhawatiran utamaku di pesawat, selain ada gangguan pada penerbangannya, adalah, aku bakal mabuk. Jadi, sebagian besar doa yang aku panjatkan adalah agar aku enggak mabuk. Aku bilang pada diriku sendiri, cuma sejam, cuma sejam. Dan alhamdulillah aku ga mabuk. Yes!

Dan sejam itu berlalu cukup cepat. Pesawat bersiap turun, dan sekali lagi kami diminta memasang sabuk pengaman. Sama seperti saat akan lepas landas, pergerakan pesawat terasa sekali. Hingga akhirnya deg! Aku rasanya bisa merasakan roda pesawat menyentuh landasan bandara. Sampailah kami di Bandara Soekarno Hatta.

Senang? Rasanya aku mau teriak “yeaaaaay! sampai!” Tapi aku masih merasa “kewalahan” dengan macam-macam perasaan saat itu. Dan bandara Soekarno Hatta benar-benar besar! Persis seperti di film dan sinetron. Dan rasanya pengen teriak, “Ranggaaaaaa!” juga lari-lari di dalamnya.

Perjalanan berangkat lancar. Lalu perjalanan pulangnya. Kami harus antre saat check in. Ya wajar bandaranya jauh lebih ramai. Dan jalan lebih jauh. Tapi sangat menyenangkan. Entah kenapa aku merasa bangunan Bandara Soekarno Hatta itu jadul dan nostalgic. Aku sangat menikmati bandaranya sampai lupa memotretnya. (alesan!)

Pesawat kami delay sekitar 30 menit tersebab cuaca yang kurang baik. Tiba-tiba hujan deras dan berpetir. Aku jadi makin cemas. Kalau sudah begini, pasnya ya merapal doa saja. Semoga lancar.

Naik pesawat di malam hari, penerbangan kami seharusnya berangkat pukul 19.30, juga sangat mengesankan. Saat pesawat lepas landas dan bersiap mendarat, lampu di dalam kabin dimatikan. Rasanya aku kayak naik roket ke luar angkasa. Sayang aku tak memotretnya. Ya, kan, HP dimatiin. Dari jendela aku bisa melihat rumah-rumah dan kelip lampu di perkotaan di bawah sana.

Cuaca yang kurang baik masih terjadi selama penerbangan pulang. Aku ingat dan masih bisa merasakan pesawat berguncang beberapa kali. Suaranya seperti kotak berisi kelereng yang diguncang-guncangkan. Serem dikit. Soalnya aku lebih banyak tidur saat penerbangan pulang. Saat mengingatnya kembali, rasanya kok seru juga, ya.

Kami sampai di Solo sekitar pukul 10. Capek, senang, dan capek banget. Rasanya begitu. Tapi lega setengah mati karena kami bisa pulang. Setidaknya itu yang aku rasakan. Meski terasa sedikt menakutkan, aku mau, mau, mau banget kalau bisa naik pesawat lagi! Amin!

Save

My Comfort Movie, Il Mare

Il_Mare_film_poster

(sumber: Google Images)

Seung-hyun-ssi, di dunia ini ada tiga hal yang tidak bisa disembunyikan. Batuk, kemiskinan, dan cinta. Semakin kau berusaha menyembunyikannya, justru akan semakin jelas terlihat ….

Il Mare bercerita tentang surat-menyurat antara Kim Eun-joo, diperankan Jun Ji-hyun, yang hidup di tahun 1999 akhir, dan Han Seung-hyun, diperankan Lee Jung-jae, yang hidup di tahun 1997 akhir. Hubungan keduanya terjadi lewat sebuah kotak surat ajaib yang ada di depan sebuah rumah di tepi pantai bernama Il Mare. Eun-joo bahkan bisa mengirimkan seekor ikan buat Seung-hyun.

Kok, bisa? Ya, bisa saja. Ini yang aku suka dari film drama ini, ya, ga ada penjelasan ilmiah dari surat-menyurat lintas waktu ini. Sebab ini bukan film fiksi ilmiah, sih. Jadi, ceritanya lebih sederhana. Ini mungkin yang jadi alasan aku menganggap Il Mare sebagai comfort movie, istilah yang aku ciptakan sendiri untuk menyebut film yang aku tonton saat butuh hiburan yang santai.

Menurutku, jalinan cerita yang sederhana memang jadi daya tarik film ini. Film ini bahkan dibuat ulang di Hollywood dengan judul The Lake House. Tapi aku malah belum nonton, sih, film yang dibintangi oleh Keanu Reeves dan Sandra Bullock ini.

Kalau buatku sendiri, selain ceritanya yang sederhana, ada beberapa hal lain yang membuat aku suka nonton film ini. Satu, temanya yang berbau perjalanan melintasi waktu. Gemas rasanya ketika Seung-hyun yang berusaha menemui Eun-joo di stasiun, padahal Eun-joo masih belum kenal dia saat itu.

Il-Mare-011

(sumber: Google Images)

Dua, settingnya di tahun 90-an. Film ini memang diproduksi di tahun 2000 sih. Jadi, nuansa nostalgianya terasa banget, apalagi kalau ditonton sekarang. Tiga, rumahnya bagus. Il Mare ini rumah idaman aku banget. Minimalis dan ada di tepi pantai. Empat, tokoh cerita dan pemerannya. Aku suka sekali sama Seung-hyun yang diperankan sama Lee Jung-jae ini. Soalnya ceritanya dia arsitek dan suara Lee Jung-jae enak di telinga. Ya, meski kalau dibandingkan sama bintang film Korea masa kini, Lee Jung-jae di Il Mare masih kalah ganteng, sih.

Film ini juga mengajarkan beberapa cara untuk menghalau rasa sedih yang unik. Kalau kata Seung-hyun, “if you feel down, do some cooking.” Sedang menurut Eun-joo begini, “if you do the laundry, you can forget the memories you want to erase.”  Dan aku sering ingat hal ini saat aku mencuci.

Sebagai penutup ini juga yang aku suka dari film ini, soundtracknya.
We Must Say Goodbye

Sedikit Soal Wanita

women-are-simple-yes-means-yes-no-means-yes-16315644
Aku baca meme ini di akun twitter salah satu selebtwit. Alih-alih ketawa, terus terang, aku malah bingung. Soalnya, aku, kok, ga gitu ya. Buatku, ya itu ya, dan enggak berarti enggak. Meski kadang aku menyesal berkata tidak, terutama kalau ditawari makanan.

Menurutku pribadi, meme seperti ini menyesatkan. Bisa bikin orang, terutama pria, makin salah paham soal wanita. Sama menyesatkannya dengan istilah “diamnya wanita itu berarti ya.”

Ga semua wanita seperti yang digambarkan di meme ini. Aku bilang enggak semua wanita, karena mungkin, mungkin, lho, ya, di luar sana memang ada wanita seperti yang digambarkan meme ini. Tapi, aku mungkin beruntung sebab para wanita di sekelilingku ga ada yang seperti meme itu.

Atau meme dan lelucon tentang perempuan yang sedang PMS yang digambarkan serupa monster. Ga semua wanita kalau pas PMS seperti itu, kok. Tapi, ya, kalau ternyata kebanyakan yang kamu kenal begitu, aku sarankan, perluas lingkar pertemananmu. Somehow aku yakin, masih banyak perempuan yang ga sembarangan mengumbar sikap emosional saat PMS.

Tadinya aku mau nulis semacam wejangan agar ga menjadikan meme semacam ini patokan bersikap karena mungkin ada yang menganggap sikap plin-plan atau kelewat emosional itu wajar buat cewek. Tapi ga jadi, deh. Jujur, aku takut malah suatu waktu aku akan makan omonganku sendiri. Tapi hingga saat ini menurutku, sikap kaya di meme ini bukan sikap semua wanita. Aku termasuk para wanita itu. Dan semoga aku konsisten. Amin.

7 Kata Bahasa Indonesia Alternatif

Omong-omong soal bahasa Indonesia, entah kenapa aku selalu ingat dengan sebuah kejadian pas aku masih SMA. Ada seorang siswa seangkatanku yang gak lulus gara-gara nilai bahasa Indonesianya cuma satu koma. Ya, 1 koma. Padahal nilai mata pelajaran lainnya bagus dan sesuai standar kelulusan. Diam-diam peristiwa ini menguatkan pandanganku kalau sebenarnya bahasa Indonesia itu susah. Apalagi kalau mau konsisten berbahasa Indonesia yang baku.

Aku pernah nanya kenapa bahasa Indonesia susah ke salah satu selebtwit, namanya mbak @yoyen. Dia waktu itu lagi bahas soal bahasa Indonesia juga. Dia cerita kalau sebenarnya bahasa Indonesia ga gampang apalagi yang baku. Jawaban mbak @yoyen atas pertanyaanku adalah penutur asli sering menyepelekan soal tata bahasa. Jadi, ya, kadang malah ga menguasai tata bahasanya sendiri. Kira-kira begitu jawabannya.

Oh ya, mbak @yoyen ini patut diikuti apalagi kalau kalian suka dengan hal-hal yang berhubungan dengan bahasa. Tiap Sabtu, mbak @yoyen nge-twit soal kata-kata bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Belanda dengan tagar #SabtuNedina.

Hal lain lagi yang menurutku membuat bahasa Indonesia yang baku kadang susah dan asing ya karena kita memang gak biasa atau membiasakan berbicara dengan bahasa Indonesia yang baku. Minimal pilihan kata kita dalam keseharian. Gak salah juga sih, soalnya memang kadang lebih mudah pakai kata bahasa asing. Misalnya download (atau donlot) lebih dikenal dan dipahami dibanding unggah, padanan kata bahasa Indonesianya. Atau passion yang punya padanan kata, ah, ini nanti masuk ke daftar di bawah. Kalau diomongin sekarang gak rahasia lagi.

Sebelumnya, begini, ya, aku bukannya mau kasih ceramah soal pentingnya berbahasa Indonesia yang baik dan benar, atau menghakimi orang-orang yang sering ngomong pakai bahasa Inggris. Meski beberapa di antaranya sedikit bikin telinga “gatal”. Soal bahasa apa yang dipakai dalam keseharian, menurutku sesuai situasinya saja. Bahasa Indonesia yang baku jelas penting untuk situasi resmi. Sebisa mungkin sebaiknya pakai bahasa Indonesia yang baku. Menurutku, lho. Kalau sehari-hari, mana yang bisa dipahami lawan bicara aja, deh.

Lhah, ini pengantarnya panjang amat. Oke, sedikit lagi. Jadi, aku menemukan beberapa kata bahasa Indonesia yang terdengar asing, tapi terasa keren kalau dipakai. Daftar ini bukan daftar final, jadi siapa tahu nanti akan aku lanjutin lagi. (lumayan, ide cerita di minggu-minggu yang akan datang.)

1. Senarai
se.na.rai
(kata benda) daftar
Senarai bisa jadi alternatif untuk menyebut kata daftar. Aku pernah pakai kata ini untuk ngasih judul tulisanku dua minggu lalu.

2. Semenjana
se.men.ja.na
(kata sifat) sedang, menengah
Aku mengenal kata ini memiliki makna yang sama dengan medioker (bahasa Inggris: mediocre). Tapi kata ini kedengaran lebih intelek, ya.

3. Renjana
ren.ja.na
(kata benda) rasa hati yang kuat (rindu, cinta kasih, berahi, dsb)
Aku mengenal kata ini sebagai padanan untuk passion. Jadi alih-alih memakai passion, kenapa tidak renjana.

4. Senandika
se.nan.di.ka
(kata benda)  wacana seorang tokoh dalam karya susastra dengan dirinya sendiri di dalam drama yang dipakai untuk mengungkapkan perasaan, firasat, konflik batin yang paling dalam dari tokoh tsb, atau untuk menyajikan informasi yang diperlukan pembaca atau pendengar
Panjang, ya, artinya. Aku langsung salin aja dari KBBI V. Kalau aku ga salah, kata ini adalah padanan kata bahasa Inggris “soliloquy”.

5. Klandestin
klan.des.tin
(kata keterangan) secara rahasia; secara gelap; secara diam-diam
Bahasa Inggris kata ini adalah, clandestine. Ya, mungkin kata ini serapan dari bahasa Inggrisnya. Tapi, pakai klandestin saja, kenapa tidak?

6. Jenama
je.na.ma
(kata benda) merek, jenis
Hai, ternyata bisa pakai kata lain untuk menyebut merek. Plus, jenama kedengaran lebih klasik.

7. halimun (yes, halimun, bukan hanimun)
ha.li.mun
(kata benda) kabut
Karena jumlah ganjil terasa lebih bermakna, aku tambahkan kata terakhir yang sebenarnya ga baru-baru amat. Tapi jarang dipakai, kurasa.

Semua arti kata di atas, aku ambil dari KBBI V. Ya, hitung-hitung mengusahakan mengenal bahasa Indonesia lebih dalam. Oh ya, ada yang mau menambahkan atau mengoreksi?