Rumah Kita BnB (A Review)

Mumpung jatah cuti masih cukup banyak, aku memutuskan untuk liburan. Sebenarnya cuma ambil cuti sehari, sih. Cuti sudah didapat, gaji juga sudah ditransfer, ya, pokoknya tinggal berangkat, lah. Wong liburannya juga ga jauh-jauh amat. Cuma ke Jogja. Tapi di detik-detik akhir rasanya, kok, enggan. Sampai-sampai aku ga segera pesan hotel. Hingga pas aku menanyakan ke salah satu hostel incaran, ternyata kamar yang aku mau cuma kosong semalam. Padahal aku berencana menginap dua malam. Ini bikin aku makin malas. Tapi, ya, sayang cutinya, kan. Maka tengah malam aku nyari hostel di internet. Kenapa hostel? Ya, pertimbangan anggaran, lah. Lagipula aku bukan tipe orang yang harus menginap di hotel berbintang saat liburan.

Salah satu artikel yang jadi panduanku untuk mencari hostel di Jogja adalah artikel ini. Meski aku juga sempat browsing, salah satunya ke Booking.com. Aku akhirnya menemukan Rumah Kita BnB. Pertimbangan pertama dan utamaku adalah soal tarif. Saat itu di Booking.com masih ada kamar seharga Rp277.500 untuk dua malam plus sarapan. Aku lihat-lihat juga fotonya, kayaknya menarik.

Aku lalu menyimpan nomor kontaknya. Menurut pengalamanku, kadang kalau kontak langsung ke hostelnya bisa dapat lebih murah dari situs pemesanan. Sayangnya nomor yang tertera aktif sebulan lalu. Aku akhirnya memutuskan untuk pesan lewat Booking.com. Lagipula aku tak harus membuat akun dan enggak perlu kartu kredit. Pagi-pagi buta itu juga aku pesan kamar. Tinggal isi form, lalu menunggu dapat sms dan email konfirmasi. Lhah, gampang juga, ya, ternyata. Ini bukan endorse, ya.

Paginya saat aku di stasiun, aku dapat pesan dari Rumah Kita, mengonfirmasi pesananku dan berapa jumlah yang harus aku transfer. Mbak Listya, pemilik Rumah Kita yang mengirim pesan WA ke aku sempat salah tulis jumlah. Waks! Aku sempat kaget banget. Setelah aku konfirmasi lagi ternyata aku cukup mentransfer sejumlah yang ada di email.

Ini pertama kalinya aku harus transfer dulu. Sependek pengalamanku, biasanya aku baru bayar saat sampai di hotel/hostel. Tapi karena jumlahnya ga banyak, ya, ga masalah. Hitung-hitung mendukung gerakan cashless society.

Aku sampai di hostel sekitar pukul empat sore. Selama perjalanan aku kontak Mas Andi yang merupakan tim in-house Rumah Kita. Sebelumnya aku sempat nanya rute Trans Jogja juga ke Mbak Listya. Dan keduanya sangat membantu. Aku agak bingungnya karena memang belum pernah main ke daerah situ, sih. Tapi tempatnya sebenarnya mudah ditemukan. Jadi, kalau di jalan Mayjend Sutoyo, dari arah timur, di kiri jalan ada pegadaian, maju dikit, ada gapura, masuk aja. Nanti ada plangnya.

Begitu sampai TKP, aku agak kaget. Ternyata hostel inceran pertamaku lokasinya di belakang Rumah Kita. Dan kaget lagi karena nuansa homey-nya Rumah Kita langsung terasa. Singkatnya, aku suka dari pandangan pertama. Rumahnya rumah tradisional Jawa gitu. Terlihat sederhana dan homey. Perabotnya juga model-model perabotan lawas. Kalau untuk kamarnya, kayaknya tempat tidur dan mejanya bikin sendiri, sih. Selain itu rasanya ga seperti di hotel atau hostel.

rumah kita 1
Sumber gambar: Booking.com

Sampai di Rumah Kita, aku disambut Mas Andi. Ya, bukan disambut gimana-gimana, sih. Cuma dikasih kunci, dijelasin di mana kamar mandi dan dapur, dan apa saja yang sekiranya aku perlu tahu. Juga, password Wifi. Yang terakhir ini yang penting, sih. Dan Wifi-nya kenceng, lho.

Aku memilih kamar yang namanya Pulau Hoga. Ceritanya kamar di Rumah Kita diberi nama berbagai pulau yang menjadi tempat wisata di Indonesia. Ada Pulau Menjangan, Nirwana, Misool, dll. Kamar Pulau Hoga adalah kamar dengan single bed dan kipas angin. Jadi, sederhana, lah. Tapi aku sendiri suka, sih. Plus, ada jendela yang menghadap halaman belakang Rumah Kita yang caem.

20171029_095639-1305x736
ini dia halaman belakangnya yang bisa buat nongkrong. Kalau yang di atas, itu foto kamar Pulau Hoga, sumbernya dari booking.com. Kalau foto halaman belakang ini dokumentasi pribadi.

Rumah Kita BnB punya beragam pilihan kamar. Ada kamar dengan double bed, ada juga dormitory buat nginep rame-rame. Atau kamar untuk satu orang dengan single bed seperti yang aku pilih. Ga semua kamar juga pakai kipas angin. Ada juga yang pakai AC. Cuma, ya, harganya macem-macem, ya. Setauku mulai dari Rp100.000,00-Rp200.000,00 per malamnya.

Kamar mandi untuk kamar-kamar di Rumah Kita sistemnya berbagi. Jadi ga ada kamar mandi yang ada di dalam kamar. Tapi kamar mandinya bersih. Ada shower dengan air panas juga. Selain itu kita juga dikasih pinjam handuk.

Hal paling berkesan buatku adalah suasananya yang rumah banget. Lingkungannya, meski ada di tengah kampung, juga nyaman dan relatif sepi. Jadi terasa adem di hati. Meski hawanya agak panas kalau kipas angin ga dinyalain. Selain itu, staf yang ada di sana baik dan sangat membantu. Misalnya saat hari kedua aku mau sarapan aku ditawari mau jeruk anget atau teh. Ini yang menurutku plus banget. Setauku kalau di hostel backpacker semua swalayan. Sarapannya juga unik, jajan pasar.

20171029_093651-1305x736
lupis, bolu, dan arem-arem, plus jeruk anget buat sarapan
PSX_20171101_130739
Ruang tamunya yang berbau vintage

Tinggal dua malam di Rumah Kita rasanya kayak sekejap mata. Rasanya aku masih betah. Tapi Minggu siang aku sudah harus check out. Liburan sudah berakhir. Tapi aku berkata dalam hati, pengen balik lagi ke sini. Terutama nyobain nongkrong di halaman belakangnya.

PSX_20171030_013505
“Kebetulan” yang aneh. Nemu buku tentang pelukis favoritku, Edward Hopper di Rumah Kita

 

Iklan

Harapan Selalu Menemukan Jalan

Salah satu ceramah di Ted Talk yang paling mengena buatku adalah ceramah Becky Blanton. Becky Blanton adalah seorang penulis independen. Dalam ceramahnya di Ted Global 2009, Becky bercerita masa-masa ketika ia menjadi gelandangan. Selepas kematian ayahnya, Becky merasa kehilangan asa untuk hidup. Hingga akhirnya dia menggelandang dan tinggal di mobilnya. Becky kemudian dilanda depresi, hingga suatu hari dia masuk ke sebuah toko buku dan mendapati sebuah majalah memuat esai yang ia tulis tentang ayahnya. Saat itu Becky menangis, dan dalam ceramahnya, Becky bilang, “Hope always finds a way“.

Kalimat ini seketika menghantamku saat melihat ceramahnya. Harapan selalu menemukan jalan. Klise? Ya. Tapi buatku sendiri kalimat ini terasa sangat mengena, bahkan sampai sekarang aku jadikan semacam mantra.

Aku bukan orang yang selalu bahagia. Ya, semua orang juga begitu. Maksudku, aku cenderung pendiam, orang biasa bilang introver. Pendiam dan cenderung berlarut-larut kalau sedang sedih. Dan mudah sedih karena hal sepele. Meski mungkin tak ada yang tahu. Dan kalimat ini sering membuat apa yang aku rasakan jadi lebih ringan.

Seperti saat aku mengalami periode sedih ini beberapa waktu lalu, kemudian salah satu temanku bilang kalau dia kagum sama salah satu kalimatku. Saat itu rasanya aku senang. Dan kalimat Becky Blanton di atas terngiang kembali. Hope always finds a way.

Harapan selalu menemukan jalan. Ya, harapan itu bisa dalam bentuk pujian, kalimat yang baik yang seseorang ucapkan tentang kamu, video lucu di Twitter, kucing, kemudahan, dan begitu banyak hal lain. Hal sepele yang dengan melihatnya kamu, aku, merasa beban di hati lebih ringan, atau minimal tersenyum.

Hal sepele yang kadang gak kita sadari sering kita lewatkan. Aku, mungkin. Namun, justru kadang dari yang sepele-sepele inilah aku merasa apa pun yang terasa berat, jadi ringan, dan aku mampu mengangkat kepala untuk menghadapi apa yang ada di depan mata.

Harapan selalu menemukan jalan. Buat siapa saja yang pagi ini seolah kehilangan harapan, jangan menyerah dulu. Tunggu saja, sejam, dua jam, atau sehari lagi. Siapa tahu harapan itu menyentuhmu dalam wujud yang paling tak terduga.

Nge-DraKor: Secret Forest

Selepas Goblin (baca juga apa yang aku suka dari Goblin di sini), aku belum nonton drama Korea lagi sampai beberapa bulan. Namun, karena aku mengikuti beberapa akun “pegiat” drama Korea, dan beberapa orang yang getol menonton drama Korea, aku jadi “teracuni”. Suatu hari salah satu orang yang aku ikuti di Twitter “berkicau” tentang sebuah drama Korea berjudul Secret Forest. Aku jadi tertarik sama drama ini. Beruntung di depan rumah ada pancaran wi-fi dari kantor kelurahan, jadi, aku putuskan untuk menonton drama yang satu ini.

Secret_Forest-p1
Secret Forest adalah drama kriminal dengan tokoh utama seorang jaksa bersama Hwang Shi Mok. “Istimewa”-nya, jaksa Hwang pernah mengalami operasi pengangkatan sebagian otak kecilnya, sehingga dia kehilangan kemampuan untuk berempati pada orang lain. Jadi, cool gitu.

Suatu hari jaksa Hwang “terjebak” dalam sebuah peristiwa pembunuhan seorang pengusaha yang memiliki banyak koneksi di kejaksaan dan pemerintahan. Kasus pembunuhan ini rupanya jadi awal dibongkarnya kolusi dan korupsi di pemerintahan. Yang membongkar tentunya jaksa Hwang.

Buatku drama ini bagus banget. Pertama dari segi cerita, bisa dibilang ceritanya sederhana, karena isinya cuma membongkar satu kasus. Namun, banyak sekali hal tak terduga dalam perjalanan ceritanya. Terutama soal siapa pembunuhnya. Selain itu, sebagai bukan penggemar cerita cinta yang menye-menye dan berlebihan, aku suka sekali sama cerita drama Korea ini karena ga ada cerita cintanya.

Kedua, karakternya. Aku benar-benar jatuh cinta sama karakter dalam film ini. Jaksa Hwang yang nyaris ga menunjukkan emosi justru bikin aku jatuh hati. Mungkin karena akting pemerannya (Cho Seung-Woo) bagus banget. Benar-benar cool. Buatku karakter jaksa Hwang ini semacam sindiran bahwa kalau mau bersih dan bisa bekerja secara adil di dunia hukum harus ga punya emosi dan keinginan.

Karakter lain yang bikin aku jatuh cinta adalah Inspektur Han yang diperankan oleh Bae Doo-Na. Menurutku karakter inspektur Han ini salah satu terobosan karakter wanita di drama Korea. Inspektur Han digambarkan tegas, tapi tetap perhatian sama orang-orang di sekitarnya. Salah satu adegan yang menurutku keren banget adalah adegan di bwah ini. Rasanya aku belum pernah lihat karakter wanita seperti dia di drama lain.

DIDL21sUQAEoIbG.jpg large

Secara keseluruhan aku sangat merekomendasikan drama ini buat yang kurang suka drama Korea yang cinta-cintaan. Ceritanya bagus dan sederhana. Ga terlalu rumit kayak drama kriminal lain, menurutku. Sudahkah ada yang lihat drama Korea ini? What do you think?

Pekerjaanku: Editor Buku Anak

Pekerjaanku adalah editor buku anak di sebuah penerbit di Solo. Sejauh ini baru ada satu orang yang bertanya, “kalau editor buku anak ngapain, Mbak”, saat aku memberitahukan pekerjaanku. Aku berasumsi banyak yang sudah tahu apa kerja editor. Ya, mengedit naskah. Namun, ini tak sepenuhnya benar. Aku juga baru benar-benar tahu soal tugas lain seorang editor saat aku masuk ke bidang ini sekitar empat tahun lalu.

1. Mengonsep buku
Selain dari naskah masuk, buku yang ada di pasaran dibuat dari konsep buku yang diajukan editor. Setidaknya begini alurnya setahuku. Jadi salah satu tugas utamaku sebagai editor adalah membuat konsep buku yang bisa diterima pasar. Syukur-syukur kalau bisa jadi buku laris. Konsep buku ini meliputi tema sampai kemasan bukunya. Kemasan di sini maksudnya nanti bukunya formatnya seperti apa. Sebab, buku anak sendiri bermacam-macam. Ada buku cerita bergambar, ada kumpulan cerpen, novel, juga buku aktivitas. Kadang aku juga harus mencari naskah buku anak asing yang bisa diterbitkan di sini.

2. Mencari dan berhubungan dengan ilustrator
Salah satu elemen penting buku anak adalah ilustrasi. Sebagai editor aku juga harus memikirkan ilustrasi yang sesuai untuk naskah yang sudah aku konsep. Kalau sudah ketemu, ya, aku harus menghubungi ilustrator itu, menyampaikan arahan ilustrasi, mengecek sketsa, pewarnaan, juga menunjukkan ilustrasinya kepada penulis. Dalam mengerjakan tugas kedua ini, aku sering dibantu oleh teman-teman dari bagian kreatif yang isinya para desainer dan ilustrator.

3. Mengedit naskah
Mengedit naskah di sini meliputi pemeriksaan tata bahasa, penggunaan bahasa yang digunakan sudahkah sesuai dengan target pembacanya, kepaduan isi cerita dengan ilustrasi, dan yang ga kalah penting soal isinya. Karena sasaran pembacanya yang unik, soal isi dan kesesuaian bahasa jadi perhatian khusus. Bahasa yang digunakan dan isi harus banget sesuai dengan pembaca anak.

4. Memastikan proses penerbitan berjalan lancar dan sesuai jadwal
Selain tiga tugas di atas, editor buku anak juga punya tugas memastikan semua prosesnya lancar dan sesuai jadwal terbit yang sudah ditentukan. Ini berarti editor juga harus jadi “tukang tagih” mulai dari menagih ke penulis sampai ilustrator, juga desainer.

Kira-kira begini gambaran tugas editor buku anak. Menurutku sudah terbayang, sih, bahwa setiap buku yang terbit hingga sampai ke tangan pembaca mengalami proses yang enggak singkat. Dan aku yakin setiap prosesnya dijalankan dengan hati-hati. Maka, kalau ada kasus buku yang kontroversial seperti beberapa waktu lalu, itu bukan karena unsur kesengajaan. Dan aku pribadi berpendapat kalau kesalahan semacam itu bisa menimpa siapa saja. Dan jujur aku takut banget hal yang sama menimpaku. *amit-amit* *ketok meja tiga kali*

Oh ya, siapa pun yang baca tulisan ini (kalau ada juga, sih), kalau ada pertanyaan soal pekerjaanku atau dunia penerbitan, boleh, lho, ya, ninggal pertanyaan di bagian komentar. Insya Allah aku balas. Kalau ada yang punya naskah atau pengen konsultasi lebih mendalam soal kepenulisan, bisa juga kontak aku via email di noteofordinarypeople@gmail.com. Tapi untuk konsultasi naskah dan kepenulisan yang mendalam, ada biayanya, sih. Maaf, ya, bagaimanapun aku harus menyediakan waktu dan pikiran lebih kalau buat konsultasi. Kalau cuma nanya-nanya, silakan tinggal komentar saja.

CPNS, Daftar Gak, Ya?

Tahun 2010, begitu lulus aku langsung mendapat pekerjaan penuh waktu pertamaku di sebuah agen naskah buku LKS di Solo. Kupikir waktu itu, kerja apa saja, lah. Di saat yang sama aku beruntung karena ada lowongan CPNS. Iseng ga iseng, maksudku aku nyaris tanpa ekspektasi waktu itu, juga ga kebayang CPNS itu seperti apa, aku mendaftar seleksi CPNS Kemenlu. Beruntungnya lagi ada beberapa teman sejurusan yang ikutan mendaftar. Bulan puasa tahun 2010 aku berangkat ke Jakarta bersama rombongan temanku naik mobil. Ya, kami memilih jalur darat. Aku lupa apa alasannya kami memilih naik mobil. Itu pertama kalinya aku menginjakkan kaki di Jakarta. Beruntungnya lagi kami menginap di rumah kerabat teman kami.

Aku berulang kali menyebut aku beruntung selain karena memang aku beruntung, juga karena aku membesarkan hatiku. Ya, aku gak lolos CPNS. Tapi aku berkesempatan untuk bisa ikut seleksi sampai tahap wawancara. Bahkan di tahap wawancara ini aku sempat tinggal di Jakarta selama 10 hari bersama teman-temanku di penginapan asrama Haji di daerah Cempaka Putih. Ngomongin ini aku, kok, jadi terharu sendiri.

Gagal pada tahun 2010, aku mencoba lagi di tahun 2012. Dan gagal lagi. Bahkan aku tak lolos tes tertulisnya. Jujur, kegagalan ikut CPNS ini salah satu kekecewaan terbesar dalam hidupku. Namun, hidup kadang tak lebih dari sekadar menghadapi kekecewaan demi kekecewaan.

CPNS itu unik. Mungkin sama misteriusnya dengan jodoh. Ada seorang temanku yang mencoba sekali, dan lolos. Padahal dia awalnya terlihat ogah-ogahan buat mendaftar. Pernah juga aku dengar cerita ada orang yang mencoba 11 kali baru lolos. Namun, aku tak punya waktu 11 kali. Aku tak mau lagi mencobanya. Alasan utamanya, malas. Mungkin aku masih trauma dengan kegagalanku di masa lalu. Alasan lain, ya, mengurangi kompetitor para pendaftar.

Meski demikian, aku sangat menyarankan siapa pun kalian untuk mencobanya. Kepada temanku yang disuruh ikut CPNS oleh orang tuanya, aku bilang, ikut saja, kamu akan tahu rasanya jadi rakyat jelata juga persaingan dengan ribuan orang. Dan itu ngeri-ngeri sedap, kalau mengutip kata-kata (alm) Sutan Bhatoegana.

Kata “rakyat jelata” ini aku sampaikan ke temanku karena aku duga alasannya enggan ikut CPNS karena idealismenya. Idealisme yang mungkin ga dimiliki para pendaftar CPNS karena mereka harus dihadapkan pada kenyataan harus lekas mendapat pekerjaan yang mapan. Soal persaingan, aku mendapat insight ini saat ikut CPNS tahun 2012. Pas lagi ngantre kamar mandi di sebuah hall di antara ribuan orang, aku kepikiran soal ini. Salah satu momen untuk melihat persaingan dalam hidup sesungguhnya, adalah ikut CPNS. Ribuan orang bersaing untuk memperebutkan beberapa posisi saja. Segala rupa kecemasan, harapan, juga rasa persaingan bercampur jadi satu dalam ruangan ujian.

Buatku mengalami sendiri CPNS macam ini benar-benar memperkaya pengalaman hidup. Kalau kamu gagal, setidaknya kamu sudah merasakan menegangkannya berjuang. Juga buat kenangan di masa depan, saat kamu sudah sukses, kamu jadi punya cerita soal gagalnya CPNS. Kayak aku begini. Kalau kamu berhasil, tentu semua usaha yang diberikan terbayar, dan kamu punya pekerjaan yang untuk mendapatkannya kamu sudah mengalahkan ribuan orang.

Jadi, daftar, gak? Daftar saja. Bagaimanapun CPNS juga salah satu kesempatan untuk mencari pekerjaan. Dan kesempatan itu mahal harganya. Pengalaman yang diberikan, terlepas dari lolos atau tidaknya, menurutku sepadan dengan ribet ngurus dokumennya.
Buat kalian yang daftar CPNS, semoga dimudahkan dan lancar. Buat yang masih ragu, semoga ga lagi ragu setelah baca tulisan ini. Buat yang sudah memutuskan tidak ikut seperti aku, hati-hati, jangan-jangan nanti menyesal.

Nostalgia di Museum Geologi

Salah satu tempat wisata yang paling ingin kukunjungi saat merencanakan liburan ke Bandung adalah Museum Geologi. Sewaktu SMP aku pernah berkunjung ke Bandung dan mengunjungi museum ini. Juga mengulang berpose di bawah fosil T-Rex yang dipajang di museum ini.

20170819_104018-736x1306
Selebritis dari Museum Geologi

Seperti biasa, sebelum berkunjung ke suatu tempat, entah bagaimana aku terbiasa mencari informasi tempat tersebut di Google. Millenial banget, ya. Dari informasi yang aku kumpulkan, ternyata Museum Geologi tutup di hari Jumat (Jam bukanya begini: Senin-Kamis 08.00-16.00, dan Sabtu 08.00-14.00). Aku mengonfirmasi hal ini lewat akun instagram museum tersebut di @GeoMuzee. Jadi, aku memutuskan menyempatkan diri ke sana sebelum pulang ke Solo di hari terakhir, Sabtu.

Terus terang aku “kecewa” waktu sampai ke Museum Geologi, terutama setelah selesai menjelajah isinya. Museum itu tak sebesar apa yang ada di kenanganku. Mungkin karena waktu itu aku masih SMP, jadi merasa museum itu begitu besar dan mengagumkan. Tapi mungkin memang begitu cara kerja kenangan, mengindah-indahkan apa yang ada dalam kenangan agar kita kangen dan menganggap masa lalu itu luar biasa.

Dengan membayar tiket masuk sebesar Rp3000,00 untuk dewasa dan Rp2000.00 untuk anak, kita bisa mengeksplorasi empat ruang pamer indoor dan dua ruang pamer outdoor. Nah, ruang pamer outdoor yang berupa taman siklus bebatuan dan tempat simulasi penggalian fosil ini yang aku lewatkan. Aku bahkan baru tahu kalau ada dua ruang pamer di luar ini setelah aku baca lagi Guide Map yang dibuang salah satu pengunjung dan kemudian aku pungut.

Ruang pamer pertama yang aku kunjungi adalah Ruang Pamer Geologi dan Kehidupan yang terletak di sisi kanan dari pintu masuk. Di sini dipajang berbagai fosil mulai dari awal terjadinya kehidupan di muka bumi, sampai masa kejayaan kadal raksasa alias dinosaurus, juga beberapa fosil manusia purba.

Bagian ini bagian favoritku. Karena aku bisa lihat macam-macam fosil dan betapa kehidupan itu ragamnya luar biasa banyaknya. Sambil melihat berbagai fosil, aku bertanya-tanya, ilmuwan kok ya bisa membedakan jenis satu kerang dengan yang lainnya. Karena buatku sebagai orang awal, kerang-kerang itu semua terlihat sama.

Dan di ruangan ini juga aku melihat kerangka T-Rex yang sudah sangat lama ingin aku lihat lagi. Dan, yah, dalam kenangan dan ingatanku si T-Rex ini terlihat begitu wow. Namun, saat melihatnya lagi, aku agak biasa aja. Meski masih terpukau. T-rex ini sangat populer, kurasa, saat mau foto bersamanya, aku bahkan harus antre.

Ruangan favorit kedua adalah ruangan di seberangnya. Kalau enggak salah namanya sejarah geologi Indonesia. Di sini ada semacam video interaktif yang menjelaskan terbentuknya alam semesta. Juga ada berbagai bebatuan yang indah-indah. Dan yang paling berkesan bagiku adalah amethyst. Kristal berwarna ungu berkilauan yang bagian luarnya menyerupai batu.

Naik ke lantai dua museum, ada ruangan Manfaat Bencana Geologi di sisi kiri. Di dalamnya dijelaskan tentang bencana geologi seperti gunung meletus dan gempa bumi, dan bagaimana manusia dari masa ke masa memanfaatkannya, mulai dari membuat berbagai peralatan dari batu, sampai bikin candi.

Ruangan terakhir yang aku masuki adalah ruang Sumber Daya Geologi. Terus terang aku udah hilang konsentrasi di ruangan ini. Lapar dan kebanjiran informasi bikin aku udah ga bisa mengolah informasi yang aku dapatkan di ruangan ini (alesan).

Ada banyak hal baru yang aku pelajari di museum ini (meski ini bukan kali pertama aku ke sana). Dan saking banyaknya aku jadi kehilangan kata-kata dan ya, tadi, bingung. Semuanya serba keren. Dan meski aku tidak melihat bagian outdoor exhibition museum ini, aku puas dengan kunjunganku. Suatu hari nanti aku tetap pengen balik lagi ke sini, menghabiskan waktu untuk benar-benar menyimak dan membaca tiap keterangan yang menyertai benda-benda yang dipajang di museum ini.

Bandung dan Hal-Hal yang (Mungkin dan Sudah) Disesali

20170818_172058-1305x736

Setelah menimbang, menginginkan, dan mengangankan sejak lama, aku memutuskan ambil cuti dan main ke Bandung. Kenapa Bandung? Karena bisa dijangkau dengan kereta. Sebagai “pemabuk” darat aku menghindari bepergian jarak jauh naik bus.

 

Sebelum ini, pada 2014, aku pernah ke Bandung untuk ikut sebuah wawancara pekerjaan. Selesai wawancara, untuk menghabiskan waktu aku jalan-jalan, benar-benar jalan kaki berkeliling seputaran stasiun. Namun, karena iseng, aku malah berjalan sampai ke Pasar Kosambi, muter-muter hingga akhirnya aku menemukan jalan ke stasiun. Kesasar lebih tepatnya. Yah, waktu itu, sih, aku belum terampil menggunakan Google Maps.

 

Meski sudah kepengin liburan ke Bandung sejak lama, aku tak terlalu rinci menyiapkan kepergianku kali ini. Dan ini patut aku sesali karena jadi benar-benar ga efektif untuk mencoba tempat-tempat atau hal-hal yang terkenal di Bandung. Misalnya, aku terlewat mencoba Bandros. Meski sudah beberapa kali kontak narahubung Bandros, aku gagal naik Bandros karena waktunya yang ga ada. Atau belum masuk Museum Konferensi Asia Afrika karena gagal mengatur waktunya juga. Atau batal ke Daiso Japan, meski sudah lama pengen ke sana. Atau belum mencoba makanan-makanan unik di Bandung. Juga masuk ke Gedung Sate dan hotel Savoy Homann. Andai aku kepikiran dan berani bertanya ke petugas keamanan, aku mungkin bisa masuk ke dalamnya. Mungkin ini pertanda kalau aku harus ke Bandung lagi suatu waktu.

 

Meski banyak yang disesali dan terlewat, setidaknya aku berhasil ke Bandung. Sendirian. Sebut saja mengatasi rasa takutku akan bermacam hal, terutama ketakutanku menjadi korban kejahatan di kota besar. Ini serius, sepanjang perjalananku kemarin hal yang paling aku takuti adalah menjadi korban kejahatan. Dan terus terang, cerita para copet di sinetron Preman Pensiun terbayang beberapa kali di benakku. Mungkin karena ketakutan ini juga, aku tak banyak keluar di malam hari. Sedikit menyesal, sih. Tapi cuma sedikit. Oh ya, aku ga bilang Bandung enggak aman, ini cuma masalah ketakutanku saja.

 

Satu hal lain yang begitu berkesan dari perjalananku ke Bandung adalah permasalahan kota besar yang terlihat jelas di Bandung. Kemiskinan, kemacetan, sampah, bangunan tua yang gak terurus. Entah kenapa soal-soal ini meninggalkan kesan kuat di benakku. Terutama soal kemiskinan, ehm, atau apa ya sebutannya, kehidupan orang-orang yang terpinggirkan oleh pembangunan dan perubahan zaman. Di antara orang-orang yang asyik liburan, ada banyak pengemis, peminta sumbangan, pedagang kaki lima, gelandangan. Aku ga sedang membicarakan baik buruknya, sekadar bercerita betapa berkesannya kehadiran potret kemiskinan ini di benakku. Aku pribadi menganggap bahwa kemiskinan di satu sisi memang sulit dihindarkan di kota besar. Dan cuma bisa berharap, hidup jadi kian baik bagi mereka.

 

Mungkin sama seperti kata Surayah Pidi Baiq, Bandung bukan cuma soal geografis, tetapi lebih jauh melibatkan perasaan. Bandung bagiku juga melibatkan rasa kagum dan meleleh karena bangunan-bangunan tuanya, sekaligus simpati pada sebagian orang yang terpinggirkan oleh zaman, tak lupa sesal karena belum menikmati sebagian atraksi yang Bandung tawarkan.

 

 

Grave of Fireflies

Perang itu hanya bagus di buku sejarah dan film. Tapi bagi yang mengalaminya, itu adalah neraka.

Aku pernah baca ada yang ngetwit begitu. Dan aku tidak menyangsikannya. Apalagi setelah nonton Grave of Fireflies.

Grave_of_the_Fireflies_1994_Movie_Poster_4_ukvqk_movieposters101(com)

Salah satu temanku merekomendasikan film ini dengan bilang, kalau ga nangis berarti hatinya terbuat dari batu. Aku sebenarnya lupa gimana kata-kata temanku. Intinya film ini bikin nangis.

Sebagai penggemar film Ghibli, aku penasaran banget sama film ini. Apalagi meski sedang ada pemutaran film-film Ghibli di Indonesia, film ini ga termasuk yang diputar. Kalau aku ga salah, pihak Ghibli Jepang yang ga mau film ini diputar dalam rangkaian pemutaran film-film Ghibli di Indonesia. Salah satunya karena kemuraman perang dalam film ini. Hal yang dulu pernah dialami juga oleh Indonesia. Juga betapa trauma bekas perang itu sulit dihapuskan. Tapi mumpung ada teman yang punya film ini, aku sempatkan nonton sebelum balik ke Solo.

Delapan belas menit film berlalu aku udah nangis. Film ini dibuka dengan serangan udara yang menimpa Seita dan adiknya, Setsuko. Serangan udara digambarkan dengan cukup detail. Salah satunya dengan angle pengambilan gambar dari bawah tepat di bawah hamburan peluru. Sesaat aku membayangkan bagaimana rasanya berada di wilayah perang seperti di Timur Tengah. Bahkan meski cuma bayangan sekilas, aku ngeri sendiri. Seita dan Setsuko kehilangan ibu mereka dalam serangan udara ini, sehingga mereka harus tinggal bersama kerabat jauh mereka.

grave-fireflies-5
Seita dan Setsuko memandang kotanya yang hancur pascaserangan udara (sumber: screenprism.com)

Perang tak pernah mudah, apalagi buat anak-anak. Mungkin ini yang mau diceritakan dalam film ini. Ini bukan film soal perjuangan yang heroik atau soal cinta tanah air, melainkan cerita sederhana tentang bagaimana dua anak bertahan hidup di zaman perang. Buatku justru inilah mengapa film ini begitu berkesan.

Aku sempat mendiskusikan film ini bersama temanku. Soal Seita yang kenapa ga bekerja atau gimana lah biar bisa menyediakan makanan yang lebih layak buat adiknya. Kami akhirnya bersepakat karena Seita, ya, cuma anak-anak. Masih ada rasa egois dan ga kepikiran buat nyari kerja atau berjuang. Yang Seita lakukan cuma gimana dia bisa makan dan hidup bersama adiknya yang akhirnya meninggal karena malnutrisi.

Googling sebentar soal film ini, aku menemukan kalau film ini sendiri dibuat berdasarkan sebuah cerpen semi auto biografis karya Akiyuki Nosaka berjudul sama. Cerpen ini berkisah tentang Nosaka yang menjadi saksi kematian saudarinya di zaman perang akibat malnutrisi. Sama seperti Setsuko. Dan rasa bersalahnya karena “membiarkan” adiknya meninggal inilah yang membuat Nosaka menulis cerpen ini.

Satu hal lagi yang begitu berkesan dari film ini selain ceritanya, adalah cara berceritanya. Cerita sedih ini diceritakan dengan menampilkan paradoks-paradoks seperti hari yang cerah saat Setsuko meninggal. Atau ending-nya yang muram justru saat perang sudah berakhir dan kedamaian di depan mata. Buatku sendiri ini seolah menyampaikan bahwa apa pun yang terjadi, hidup terus berjalan. Bagiku ini justru nyesek karena seolah nyawa dua anak ini ga ada artinya, tapi begitulah hidup. It goes on.

Cerita sederhana, ga menggurui dan ga lebay. Gaya penceritaan apik. Dan tentu animasihnya yang bagus membuat Film ini menambah panjang daftar film Ghibli yang aku sukai. Meski aku tak yakin mau menontonnya lagi karena nyesek banget.

 

Nonton Princess Mononoke di Bioskop

Tanpa alasan yang jelas, sudah tiga minggu berturut-turut aku tidak nyetor tulisan ke 1 Minggu 1 Cerita. Malam ini, aku bertekad menyelesaikan tulisan ini sebelum hari Minggu berakhir.

Kemarin aku nonton Princess Mononoke di bioskop. Waktu aku cerita ke temanku bahwa aku akan ke Jogja untuk nonton Princess Mononoke, dia bilang kalau dia punya filmnya dan sudah menonton berkali-kali. Kutanggapi bahwa aku pun punya film itu dan juga sudah menontonnya berkali-kali. Aku pengen merasakan menontonnya di bioskop. Salah satunya karena aku merasakan menemukan hal-hal baru sewaktu nonton film-film Studio Ghibli di bioskop, misalnya, detail ilustrasi yang baru kulihat di layar besar. Sebab lainnya, aku punya obsesi untuk menonton semua film Ghibli yang ditayangkan di bioskop. Entah karena suka atau sekadar untuk menebus rasa bersalah selama ini menonton versi unduhannya. Yang jelas bukan untuk terlihat keren di media sosial. Aku memang suka film Studio Ghibli, kok. Dan obsesi ga pentingku ini Sepertinya akan mendapatkan tantangan karena kayaknya film Studio Ghibli tak akan diputar di Solo lagi. Jadi ya, kalau aku mau nonton, aku harus ke Jogja. Yah, lihat nanti saja.

DGHRoBhUQAATklC.jpg large
Poster resmi Princess Mononoke di Indonesia (sumber: twitter The World of Ghibli Jakarta)

Princess Mononoke bercerita tentang perjalanan Ashitaka, seorang pangeran sebuah suku yang terkena kutukan babi hutan yang berubah menjadi iblis setelah memendam dendam akibat tertembak. Menurut artikel Tirto ini, settingnya sendiri di zaman Muromachi sekitar tahun 1336 sampai 1573. Zaman perang dan para samurai masih berkuasa. Untuk menemukan penawar bagi kutukan yang dideritanya, Ashitaka harus ke sebuah hutan di barat. Dalam perjalanannya ini lah, Ashitaka bertemu dengan San, seorang gadis yang diasuh oleh serigala.

San ini yang kemudian dijuluki Princess Mononoke oleh para penduduk sebuah desa yang menambang dan membuat besi. Desa ini sendiri dipimpin oleh Lady Eboshi. Princess Mononoke yang menjaga hutan menjadi musuh bebuyutan bagi penduduk desa yang menebang pepeohonan di hutan untuk menambang pasir besinya. Puncak permusuhan San dan Lady Eboshi adalah setelah Lady Eboshi menembak Moro, serigala yang mengasuh San. Di sisi lain, hutan tempat San tinggal ini dijaga oleh Dewa Rusa, sesosok dewa dengan penampakan serupa rusa dan tinggal di jantung hutan. Di malam hari, dewa ini berubah menjadi roh yang dalam bahasa inggris di sebut Nightwalker. Aku malah lupa namanya kemarin diterjemahkan jadi apa oleh penerjemah Princess Mononoke ini.

Aku suka banget sama film ini. Aku sempat menobatkannya jadi film Ghibli favoritku. Namun, terus terang aku kemarin sempat tertidur saat nonton. Parahnya tertidur di bagian adegan-adegan penting di akhir. Aku sedikit menyesal jadinya. Mungkin aku terlalu capek di jalan. Meski memang film ini lumayan panjang, 134 menit. Bagaimanapun aku tetap senang dan bahagia setelah menontonnya.

big_1411423365_1400358906_image
Karakter favoritku di film ini, Kodama, makhluk yang menjadi penanda kemurnian sebuah hutan.

Tema yang diangkat dalam film ini menurutku sangat kompleks. Kalau disebutkan di artikel Tirto tadi, temanya tentang pertentangan environmentalist dan modernist. Kalau buatku sendiri, ada tema spiritual dalam film ini. Ya, namanya juga film tentang dewa. Salah satu yang berkesan adalah soal Dewa Rusa yang menjadi sumber kehidupan sekaligus kematian. Hal ini, salah satunya, disimbolkan dengan munculnya bunga yang mati sesaat setelahnya ketika Dewa Rusa berjalan.

Alur ceritanya sendiri menurutku ngalir banget. Semacam tahu-tahu filmnya sudah selesai saking larutnya dalam cerita yang disampaikan. Yang menurutku paling keren dari film ini adalah karakter di dalamnya. Seperti film Ghibli lain, tak ada tokoh jahat atau tokoh baik dalam film ini. Semua berkembang sesuai alurnya. Ashitaka yang awalnya memendam dendam, akhirnya memilih menolong Lady Eboshi, juga San. Lady Eboshi yang tampaknya jahat, punya sisi-sisi baik yang sulit diabaikan.

Buatku film ini bagus banget, tapi aku sadar kalau film Ghibli bukan untuk semua orang. Maksudku, memang cuma yang suka yang bisa menikmatinya. Tapi itu ga berarti suka film Ghibli berarti punya naluri seni yang tinggi atau hipster atau keren. Ya, biasa aja. Aku bilang begini karena sempat baca twit orang yang seolah menggambarkan kalau yang suka film Ghibli itu keren atau (sok) keren dengan nada sinis. Ini mungkin perasaanku aja, kadang aku memang baperan. Tapi menurutku, ya, kamu ga selalu harus suka apa yang banyak orang suka, atau yang orang terkenal sukai. Dan belum tentu kalau orang terkenal suka sesuatu, itu hal yang keren. Biasa aja lah.

Oh iya, film ini masih tayang di jaringan bioskop CGV dan Cinemaxx sampai tanggal 8 Agustus. Kalau tertarik, sempatkan aja nonton.

Duolingo, Cara Asyik Belajar Bahasa Asing

Sejak beberapa lama aku pengen belajar bahasa asing lagi. Dulu waktu SMA dan kuliah aku pernah belajar bahasa Jerman. Pas kuliah aku malah belajar bahasa Italia dan Arab selama dua semester. Namun, kendala utamanya sekarang adalah … mengalahkan rasa malas. Aku udah mengunduh bermacam-macam material belajar bahasa Jerman, tapi tiap mau belajar, rasanya malas aja.

Lalu kepikiran mungkin belajar lewat aplikasi lebih asyik karena aku punya kebiasaan (buruk) main HP terus. Setelah mendengar dan menimbang, akhirnya aku instal Duolingo.

Salah satu temanku yang belajar bahasa Inggris merekomendasikan aplikasi ini. Dan ternyata emang asyik. Cara belajarnya mirip kaya kalau kita main game di HP. Ada kuis dan level-levelnya.
Setelah instal, aku langsung nyari materi bahasa Jerman. Ternyata kalau bahasa Jerman (dan bahasa lain selain bahasa Inggris) pengantar pembelajarannya pakai bahasa Inggris. Untung aku lumayan bisa bahasa Inggris. So, ga masalah.

Untuk mulai belajar ada semacam placement test-nya. Tapi bisa juga kalau mulai dari materi paling dasar. Untuk bahasa Jerman, aku iseng ikut placement test-nya. Hasilnya tingkat kelancaran bahasa Jermanku adalah 25%. Jadi aku bisa lompat ke materi yang ga terlalu dasar.

Tergoda dengan banyaknya bahasa yang tersedia, aku nyoba belajar bahasa Italia sekalian. Kali ini aku ga ikut placement test, jadi bener-bener belajar dari materi pertama.

Materi di Duolingo bisa kubilang enggak urut. Setauku biasanya kalau kita belajar bahasa asing, materi awalnya tentang sapaan dan perkenalan. Namun di Duolingo enggak begitu. Materinya dikelompokkan dalam beberapa skill. Ada tentang makanan, rumah, buah, dll.

Belajar di Duolingo beneran kayak main game. Tiap menyelesaikan satu skill, aku dapat lingot. Lingot ini adalah mata uang yang bisa dipakai di Duolingo untuk beli nyawa atau hal-hal lain kayak di game. Terus terang aku ga terlalu paham dan mikirin soal Lingot ini. Pokoknya asal belajar aja lah.

Yang bagus lainnya dari Duolingo adalah ragam latihannya yang lengkap, mulai dari nyocokin kata bahasa asing sama artinya, sampai speaking untuk melatih pelafalan. Setiap belajar satu skill atau materi, kalau nemu kata atau pertanyaan yang susah dan aku salah jawabnya, pertanyaan ini akan diulang lagi. Untuk kata baru juga ada sontekannya. Jadi menurutku semua orang pasti bisa menyelesaikan soal di latihan Duolingo.

Aku sudah mencoba aplikasi ini sekitar dua minggu. Dan tiap pagi selalu diingatkan untuk latihan sama aplikasi ini. Sejauh ini yang menurutku kurang adalah ga ada materi yang bisa diunduh untuk dibaca sendiri. Tapi secara keseluruhan aplikasi ini oke banget. Oh iya kekurangan lain belum ada bahasa Koreanya. Namun, ini aplikasi yang bagus banget. Dan patut dicoba. Atau udah ada yang nyoba? Bisa share pengalamannya?

**curhat: sejak sebelum lebaran laptopku rusak. Jadi aku bikin postingan lewat Handphone. Dan susah juga pas mau upload gambar. So, tulisanku seadanya banget.