Melintasi Waktu di Kota Lama

Aku berdiri di sebuah perempatan di jalan Kepodang kawasan Kota Lama Semarang. Saat itu aku membayangkan dokar, mobil-mobil lama, orang-orang berpakaian a la Belanda atau warga pribumi dengan iket di kepalanya lalu lalang. Saking nyatanya bayanganku, aku seperti dilempar ke Semarang di era Kolonial. Absurd juga rasanya.

jalan kepodang

Aku baru pertama kali mengunjungi Kota Lama Semarang. Telat banget, ya. Sudah lama ingin ke sini, tapi baru kesampaian kemarin. Aku datang tanpa ekspektasi meski sudah pernah melihat gedung cafe Spiegel dan Gereja Blenduk wara-wiri di internet. Dan begitu sampai sana, aku benar-benar terpesona. Sangat tidak menyangka kalau ada kawasan seindah itu. Indah karena aku memang penggemar gedung tua.

Kawasan Kota Lama letaknya tak jauh dari Stasiun Tawang. Dari pintu keluar, tinggal nyebrang, lurus, ada perempatan dengan gedung pabrik rokok Praoe Lajar di sisi kanan, lurus lagi. Dari sini sudah terlihat kubah Gereja Blenduk. Mentok pertigaan, belok kiri, ada belokan ke kanan, lurus. Pas sampai di samping Gereja Blenduk. Sebenarnya bisa juga kalau mau naik becak. Ada beberapa tukang becak yang menawarkan mengantar dengan tarif sepuluh ribu rupiah.

Gereja Blenduk

Seperti yang sudah kubilang di atas, aku ini penggemar gedung dan rumah tua. Jadi, begitu sampai di Gereja Blenduk rasanya seperti di dalam mimpi karena selama ini aku cuma melihatnya di TV atau internet. Hatiku makin nyes saat melihat gedung Jiwasraya di depannya. Dan terasa dilempar menjelajah waktu saat berkeliling kawasan tersebut.

Jalan favoritku, sejauh ini, adalah Jalan Kepodang. Bagian jalan ini sepertinya belum banyak diperbaiki sehingga masih ada beberapa gedung tua yang masih terbengkalai. Bahkan di salah satu gedung (atau rumah?) ada sisa-sisa akar pohon di bagian atasnya. Ya, di bagian atasnya. Entah bagaimana bisa ada pohon di sana.

akar pohon

Di salah satu gang di sekitar Jalan Kepodang ada sebuah spot foto yang sangat terkenal. Di situ ada bangunan tua dengan pohon di temboknya. Benar-benar tumbuh di temboknya dengan akar dan batang yang seolah siap menjebol bata penyusun tembok. Aku sampai harus balik dua kali agar adik-adikku bisa berfoto di situ. Aku sendiri cukup memfotonya dari jauh. Minder karena yang berfoto di situ pakai kamera dan hape mahal.

20180414_121627-1305x736

Aku tak lama berada di Kota Lama. Udara Semarang yang terasa panas luar biasa ternyata mengalahkan tekadku untuk berkeliling-keliling lebih jauh. Aku lantas membayangkan suatu hari kembali ke sana dan berkeliling naik sepeda. Meski aku tak yakin akan benar-benar membawa sepeda, Kota Lama, aku akan kembali.

 

 

 

Iklan

Drakor Favorit: Avengers Social Club

Avengers_Social_Club-p002

Salah satu alasan aku suka menonton drama Korea Selatan adalah ide ceritanya yang beragam dan unik. Misalnya saja drakor yang baru selesai aku tonton, Avengers Social Club. Menurut Asian Wiki, drama ini berdasarkan sebuah komik web berjudul “Buam-dong Boksooja Soshyeolkeurub”.

Avengers Social Club bercerita tentang sebuah perkumpulan balas dendam dengan anggota tiga orang wanita dan seorang anak SMA. Balas dendam kepada siapa? Kepada siapa saja yang pernah menzalimi mereka, mulai dari suami yang berselingkuh, sampai wanita (sok) kaya yang semena-mena. Namun, drama ini bukan jenis drama kriminal maupun drama yang sedih dan mengharu biru, melainkan drama komedi yang lucu dan enteng ditonton.

cau-lac-bo-bao-thu-avengers-social-club-2017-1-1512371092
sumber: google image

Avengers Social Club adalah sebuah perkumpulan yang diinisiasi oleh Kim Jung Hye (diperankan oleh Lee Yo Won), istri dan anak konglomerat kaya yang suaminya membawa “pulang” anak hasil hubungan gelapnya. Diceritakan Jung Hye tidak memiliki keturunan sehingga suaminya membawa pulang anak hasil hubungan gelapnya yang sudah berusia 18 tahun sebagai calon penggantinya kelak. Jung Hye merasa marah, tetapi nyaris tak berdaya dengan situasi yang dihadapinya.

Saat lagi ngopi cantik, Jung Hye bertemu dengan Hong Do Hee (diperankan dengan kece oleh Ra Mi Ran), seorang janda yang bekerja sebagai penjual ikan. Saat itu Do Hee tengah bertemu dengan seorang wanita kaya yang berusaha memerasnya setelah anak Do Hee berantem dengan anak si wanita kaya. Melihat perlakuan semena-mena si wanita kaya kepada Do Hee, Jung Hye jadi terinspirasi membuat klub balas dendam. Untuk mewujudkannya, Jung Hye mengajak Lee Mi Sook (diperankan oleh Myung Se Bin), seorang wanita halus lembut yang menjadi korban KDRT suaminya yang tak lain merupakan sahabat suami Jung Hye.

Tiga orang ibu-ibu berkumpul dan berencana balas dendam, hasilnya tentu tak serapi para penjahat profesional. Hampir semua aksi mereka gagal hingga datang “bala bantuan” berupa kecerdasan anak muda yang bernama Lee So Gyum (diperankan oleh Jun). So Gyum adalah anak hasil hubungan gelap suami Jung Hye. So Gyum rupanya juga ingin membalas dendam kepada ayah dan ibu kandungnya yang mencampakkannya dan kini memanfaatkannya untuk mendapatkan materi.

Cerita drakor ini enteng saja sebenarnya. Balas dendamnya pun tak rumit dan kadang malah berakhir konyol. Namun, sambil nonton aku memperhatikan beberapa hal yang bisa dibilang “hikmah”. Pertama soal betapa setiap orang memiliki “pertempuran” mereka sendiri. Jung Hye dan Mi Sook terlihat memiliki kehidupan sempurna, tetapi nyatanya hidup mereka pun tak bahagia. Meski kaya raya, hidup Jung Hye tak bahagia tak cuma karena memiliki suami yang punya anak dari hubungan gelap, tetapi juga karena kesepian dan cuma dianggap boneka.

Jung Hye ternyata memiliki nasib sama seperti So Gyum. Dia adalah anak hasil hubungan gelap ayahnya yang konglomerat. Jung Hye bahkan tak pernah melihat ibunya. Jung Hye lantas menikah dengan Lee Byung Soo untuk memperkuat perjanjian kerja sama antara perusahaan ayah Jung Hye dan ayah Byung Soo. Hidup Jung Hye dianggap makin tak bernilai karena tak bisa memberikan keturunan.

Maka klub balas dendam alias Bokja Club yang ia inisiasi bukan cuma sarana balas dendam, melainkan sebagai bagian dari proses tumbuhnya dalam hidup. Di Bokja Club, Jung Hye menemukan “keluarga” baru yang siap mendukung dan menghiburnya, juga tak menganggapnya sebagai sesuatu yang tak bernilai. Jung Hye pun berproses dari seorang wanita yang pasrah saja menerima nasib sebagai seorang istri yang sekadar agar hubungan dua perusahaan tak hancur, menjadi seorang wanita yang mampu memperjuangkan dirinya sendiri dan tak takut menjalani hidupnya sebagai Jung Hye, bukan sebagai istri maupun anak konglomerat.

Mi Sook yang awalnya memilih bertahan demi putrinya, juga berubah dan menyadari bahwa bagaimanapun kebahagiaannya sendiri lebih penting. Mi Sook yang pasrah dan takut kehilangan keluarganya jadi berani melawan suaminya dan dengan demikian menyelamatkan dirinya dan putrinya dari kehidupan dalam rumah tangga yang “beracun”.

Avengers Social Club tak cuma jadi contoh beragamnya ide cerita drakor, tetapi juga kecerdikan para pembuat drakor mengemas isu penting dengan cerita yang segar dan ringan. Ini yang jadi alasan lain aku masih suka nonton drakor. Satu hal lain yang tak bisa aku abaikan dari drakor ini adalah betapa fashionable-nya Jung Hye dan Mi Sook. Jadi, drama ini tak sekadar menghibur hati, tetapi juga menghibur mata bagi pecinta visual cantik sepertiku.

 

 

Cerita Nonton: Love for Sale

love for sale

Kalau bukan karena postingan Instastory-nya Joseph Sudiro, aku mungkin tak akan menonton Love for Sale. Udah sangsi sendiri pada judulnya yang mirip-mirip sama judul FTV. Namun, apa sih bagusnya sampai Joseph Sudiro nonton dan memujinya? Rasa penasaranku sama film ini makin besar gara-gara linimasa Twitterku bertaburan dengan pujian pada film ini. Pujian dan bocoran, lebih tepatnya. Namun, aku masih penasaran juga sama filmnya. Ya, sekalian nyari bahan buat tulisan di blog.

Love for Sale bercerita tentang Richard, seorang pria berusia 41 tahun yang menjomlo. Richard ditantangin sampai jadi bahan taruhan untuk bawa pacarnya ke pesta pernikahan temannya, Rudi. Richard yang dikejar deadline, menyasar siapa saja, mulai teman-teman lamanya sampai karyawati di percetakan miliknya. Jalan keluar dari masalah Richard adalah Love.inc, sebuah aplikasi kencan yang lantas mempertemukannya dengan Arini. Arini yang manis, pengertian, pintar memasak, paham sepak bola, dan gak malu-malu kucing membuat Richard jatuh hati.

love for sale2

Saat dua orang bertemu dan jatuh hati, kemungkinannya cuma dua, bakal berlanjut atau berpisah. Kelanjutan dari hubungan Richard dan Arini ya cuma dua itu. Jadi atau pisah. Namun, kupikir inti dari cerita film ini bukan soal kelanjutan hubungan mereka, melainkan tentang bagaimana cinta mengubah seseorang.

Di awal film kita akan ketemu Richard yang sangat menyebalkan, terutama dari sikapnya ke karyawan-karyawannya. Demanding, perhitungan, juga gak segan-segan memecat karyawan karena masalah sepele. Setelah bertemu Arini, Richard mulai berubah. Dan makin berubah di akhir filmnya, jadi lebih luwes. Dan mungkin itu sebenarnya jati diri Richard.

Meski judulnya mirip kaya FTV, Love for Sale bukan film romantis pada umumnya yang klise yang menawarkan akhir bahagyaa selamanyaa. The End. Film ini justru memberi ruang yang luas bagi penontonnya untuk berimajinasi dan menginterpretasikannya. Dan bagiku terasa menyenangkan. Selepas film usai, perasaanku masih campur aduk. Bingung dengan apa yang barusan aku tonton, sekaligus terhibur dan tersentuh juga. Karenanya aku biarkan film ini tumbuh dalam diriku sendiri, hingga aku sampai pada kesimpulan, “lha kok bagus”. Dan rasanya aku pengen nonton lagi. Menikmati detail-detail yang terlewatkan dan mengingat puisi di akhir film.

Aku suka dengan ruang kosong yang diciptakan agar penontonnya mikir sendiri ini.  Aku suka dengan ending-nya, keputusan Richard dan pantai yang menutup film. Aku juga suka dengan bagaimana Richard akhirnya sadar tentang apa yang terjadi. Juga suka dengan bagaimana film ini mencoba bilang bahwa kehadiran orang lain bukan jawaban buat kesepian yang kamu rasakan.

 

Drakor Favorit: Prison Playbook

Wise_Prison_Life-P1
Sumber: AsianWiki

Even when things seem to go well,
life can take an unexpected turn.

Kim Min-chul, Prison Playbook

Di puncak kariernya sebagai atlet bisbol, Kim Jee-hyuk (Park Hae-soo) terpaksa melepaskan semua kemewahan, juga kejayaan, dan meringkuk di penjara setelah dituduh menyerang seorang pria yang memerkosa adik perempuannya. Di penjara, Jee-hyuk bertemu dengan berbagai jenis manusia, mulai dari residivis, pecandu narkoba yang teler, sampai sipir penjara yang ngeselin tapi ngangenin. Di penjara juga Kim Jee-hyuk bertemu kembali dengan seorang sipir yang merupakan sahabat lamanya, Lee Joon-ho (Jung Kyoung-ho).

wise prison life-2
Sumber: banghae on Tumblr

Prison Playbook atau Wise Prison Life berpusar pada kehidupan Kim Jee-hyuk di penjara. Jalan ceritanya sederhana saja menurutku. Tak ada adegan kabur-kaburan atau aksi yang bikin adrenalin naik. Namun, bukan berarti ceritanya menjadi membosankan. Bagiku nonton drakor ini seperti duduk nyender di kursi empuk sambil lihat pemandangan danau yang tenang. Santai dan nyaman. Belum lagi tak sedikit bagian ceritanya yang bikin hati hangat.

Elemen utama yang paling menonjol dalam drakor ini, menurutku, adalah para tokohnya. Setiap tokohnya dibuat sedemikian rupa hingga mampu membuat penonton tersenyum geli sampai berkaca-kaca. Tokoh utamanya, misalnya, Jee-hyuk digambarkan sebagai sosok yang sederhana dan mengikuti naluri. Pas dengan profesinya sebagai atlet yang cenderung lebih mengandalkan naluri saat bertanding. Atau tokoh Yoo Han-yang (Lee Kyu-hyung), seorang pecandu yang sehari-hari cuma gelosoran dan selimutan. Han-yang yang haus perhatian dan kasih sayang selalu nempelin teman-teman sekamarnya. Tokoh-tokoh dengan karakter unik ini sukses mencuri perhatian penonton berkat akting para aktor dan aktrisnya yang ciamik

Tak sekadar membuat penonton tersenyum dan berkaca-kaca, para tokoh dalam drakor ini juga menunjukkan betapa manusia banyak lapisannya. Apa yang tampak dari penampilan seseorang tak lantas merepresentasikan diri mereka sebenarnya. Misalnya Kim Min-chul, napi yang masuk penjara karena terlibat kasus pembunuhan. Meski terlihat garang dengan tato dan postur tubuhnya yang besar, Min-chul sebenarnya taat beribadah dan nrimo. Atau tokoh Dolman preman yang ternyata rindu dianggap sebagai manusia.

Aku awalnya memutuskan menonton drakor ini tanpa ekspektasi apa-apa, selain lihat Jung Hae-in yang memerankan Kapten Yoo. Namun, akhirnya aku malah jatuh cinta pada Lee Joon-ho, Han-yang, Beobja, juga Letnan Paeng yang sok jaim tapi aslinya perhatian. Drama yang layak ditonton saat kamu butuh hiburan sederhana yang lucu dan menghangatkan hati.

wise prison life-1
Sumber: Tumblr

Terakhir, aku tutup dengan kutipan favoritku dari drama ini.

What is the standard of happiness? Someone once said, ‘If not for what other people think, your standard for happiness would be much lower than you think.’ Everyone, don’t base your standard of happiness on other people’s opinions.

Masih Nulis? Kenapa Gitu?

Sewaktu SMA, aku pernah nyeletuk pada teman sebangkuku kalau aku ingin jadi penulis. Lalu, selepas kuliah, aku benar-benar jadi penulis. Penulis soal LKS yang dibayar dengan sangat murah. Dan ketika tahu, teman yang dulu sebangku denganku bilang, “wah akhirnya kamu benar-benar jadi penulis, ya.”

Aku akhirnya meninggalkan pekerjaan itu dan jadi editor sampai sekarang. Ya, masih di galaksi yang sama dengan penulis. Tapi, bukan itu alasanku tetap menulis, meski cuma di blog atau status, sampai sekarang.

Aku tak mengimani kalimat Pram yang begitu legendaris, “menulis untuk keabadian”. Aku juga tak mengimani bahwa menulis itu untuk menebar manfaat apalagi berdakwah. Aku menulis karena itu membantuku berpikir dengan logis dan tertata, juga membantuku mengetahui apa yang sebenarnya aku pikirkan. Terkadang hasilnya bisa jadi di luar dugaanku sendiri. Misalnya saat aku berhasil menyelesaikan tantangan 30 Hari Bercerita di Instagram. Siapa sangka aku bisa menulis cerita pendek tiga puluh hari berturut-turut, dan bahkan aku masih punya beberapa stok cerita yang tak/belum aku posting.

Aku menulis untuk membantuku mengetahui apa yang sebenarnya ada di otakku. Ini yang saat ini banget aku lakukan. Berusaha mencari tahu dan mengeluarkan unek-unek lewat menulis. Jadinya, ya, tulisan yang terkadang mbulet dan amburadul. Sesuatu yang sebagai editor, kubenci. Malu, tulisan editor, kok, berantakan. Tapi, ya, sudahlah. Aku tetap menulis.

Sudah beberapa lama sejak terakhir kali aku posting untuk 1 Minggu 1 Cerita. Aku lagi mikir, haruskah aku teruskan ikutan gerakan ini? Atau menyerah saja, ya? Satu-satunya alasanku tetap ikut adalah karena ini komunitas, aku bisa dapat beberapa pembaca dari 1 Minggu 1 Cerita. Jujur, tak ada motivasi lain. Meski cuma unek-unek, seneng, to, kalau ada yang baca?

Kalau ada yang baca tulisan ini lewat 1 Minggu 1 Cerita, apa yang membuat kalian bertahan? Dan lebih jauh, apa yang membuat kalian tetap menulis? I would love to hear.

2:30 pm

Why Dilan?

dilan
Sumber: Google

Saat aku menonton Dilan 1990 kemarin, statistik menunjukkan kalau film ini sudah ditonton 4.000.000 orang. Empat. Juta. Orang. Dalam waktu 12 hari. Hal ini tentu membuatku bertanya-tanya, memang sebagus apa, sih, filmnya? Meski aku merasa bahwa banyaknya penonton bukan berarti film itu bagus.

Aku punya beberapa analisis mengapa Dilan 1990 laku keras. Pertama, Dilan 1990 sudah punya “umat” sendiri. “Umat” dalam artian penggemar setia. Dan “basis massa”-nya menurutku lumayan kuat. Kelompok pertama adalah pembaca novel Dilan 1990 juga penggemarnya Pidi Baiq. Film ini bisa jadi sudah dinanti-nantikan oleh para pembaca Dilan. Aku bilang bisa jadi karena sepertinya tak sedikit juga yang justru kecewa Dilan dijadikan film apalagi pemerannya Iqbal. Kelompok penggemar kedua adalah penggemar Iqbaal. Bisa dari Co-Mate (fans-nya CJR) atau penggemar baru yang kepincut liat Iqbaal remaja yang makin cakep (termasuk aku). Kelompok penggemar ketiga adalah penggemar pemeran Disa, Zara JKT48. Penggemar Zara tentu ga akan melewatkan penampilan Zara di film pertamanya, meski cuma beberapa menit. Tapi ya, gimana, ya, Disa eh Zara emang imut banget.

dilan 3
Sumber: IDNtimes

Kedua, rasa penasaran yang menggiring orang-orang untuk nonton Dilan. Orang-orang yang penasaran ini beda dari orang dari kelompok di alasan pertama, ya. Bisa jadi orang-orang yang penasaran ini benar-benar bukan kelompok penggemar. Sekadar movie goer atau ya, murni penasaran seperti apa cerita filmnya. Ditambah lagi ketika mendengar kabar bahwa filmnya sudah ditonton berjuta-juta orang dalam waktu tayang yang singkat. Makin, penasaran, kan?

Ketiga, orang-orang yang gak mau ketinggalan tren dan pengen eksis di media sosial. Di era media sosial seperti saat ini, buat sebagian orang, kalau gak ikutan tren dan mengunggahnya di akun media sosial, rasanya ada yang kurang, gitu. Jadilah ikutan berbondong-bondong ke bioskop untuk nonton dan mengunggah aktivitasnya di akun media sosial. Kayak begini tentu ga salah. Jadi salah kalau merekam filmnya untuk diunggah ke instastory, misalnya.

Keempat dan terakhir, alasan orang nonton Dilan 1990 apalagi sampai beberapa kali, kurasa ada yang seperti ini, tak lain dan tak bukan adalah karena pada dasarnya kita kadang butuh cerita cinta yang sederhana dan cheesy. Dilan 1990 itu asli, cheesy banget. Tapi kadang kita, oke, aku, butuh cerita cinta yang sederhana, polos, dan cheesy di tengah dunia yang makin keras ini. Gak sedikit orang yang berkomentar bahwa nonton Dilan bikin mereka ingat masa-masa SMA. Atau ingat cinta pertama mereka. Kurasa faktor nostalgia ini juga yang bikin orang pengen nonton Dilan atau mengulang menontonnya.

Dilan 1990 cuma kisah cinta anak SMA di tahun 1990. Gak pake drama cinta segitiga (Beni, pacarnya Milea ga kuhitung karena pada dasarnya Milea sudah suka sama Dilan) ataupun friendzone. That’s it. Nyaris gak ada konflik dalam film ini. Namun, bukan berarti filmnya jadi membosankan. Oke, jujur, di awal-awal filmnya memang terasa lambat. Tapi interaksi Dilan dan Milea, juga karakternya Dilan bikin film ini sangat menghibur. Ditambah aktingnya Iqbaal yang “ternyata” pas banget meranin Dilan. Vanesha juga bagus meranin Milea. Aku ga bisa mengabaikan tatapannya pas dibonceng Dilan. Tapi, ya, kalau aku dibonceng Iqbaal aku juga kayak Milea kali, ya. Menatap penuh cinta.

dilan 2
sumber: tempo.co

Analisisku di atas cuma mengandalkan common sense saja. Namun, di atas semuanya, Dilan 1990 film yang menghibur dan sangat patut untuk ditonton, siapa pun kalian, penggemar atau bukan. Penasaran atau sekadar pengen eksis. Juga yang ingin bernostalgia.

 

 

30 1/2

Aku lupa tepatnya, entah akhir tahun atau awal tahun ini, seorang temanku bertanya, bagaimana rasanya berusia 30 tahun. Saat itu seketika aku langsung membalas dengan kutipan dari drama Korea Selatan favoritku ini.

QuickMemo+_2017-12-26-15-48-18

Aku bersyukur hidupku biasa-biasa saja. Namun, aku tak bisa berhenti merasa bahwa menjadi orang dewasa berusia 30 tahun itu, kadang menyedihkan. Mungkin karena seperti karakter dalam drakor favoritku tadi, aku tidak benar-benar tahu apa yang akan atau harus aku lakukan di usiaku yang sekarang. Mungkin juga karena aku merasa, duh, aku tua banget. Jadi, pada jawaban selanjutnya untuk pertanyaan temanku tadi, aku bilang, being 30 sucks (sometimes).

Dan di antara kadang-kadang tadi, aku juga merasa semua tidak seburuk caraku menggambarkannya dalam satu kalimat di atas. Misalnya soal wajah. Ya, wajah. Suhay Salim, seorang beauty vlogger pernah bilang bahwa dia ga sabar untuk lekas berusia 30 tahun, salah satu alasannya dia melihat wajah orang semakin “jadi” saat berusia 30 tahun(-an). Dan aku mengamini hal ini. Coba lihat foto-foto lama saat kita (atau kamu) anak-anak atau remaja. Akan terlihat jelas bahwa makin lama wajah kita makin “jadi”. Makin terlihat matang. Makin ganteng dan cantik. Ya, meski nantinya akan menua dan keriput. Oleh karena itu, bagus juga kalau mulai pakai perawatan kulit anti-aging sekarang.

Saat aku menulis ini, usiaku kira-kira 30 1/2 tahun. Aku masih punya setengah tahunan lagi untuk menjalani usia 30 tahun. Namun, jujur aku sudah tak sabar memberi “petuah” kepada siapa pun yang masih berusia 20 tahunan di luar sana. Sombong, ya.

Hal pertama yang ingin aku katakan adalah, tak ada yang permanen di dunia ini. Terutama soal karier. Kalau saat ini kamu berada di puncak karier, jadi CEO, disayang atasan, atau apa lah, itu tidak akan berlangsung selamanya. Semua orang bisa digantikan. Jadi, ada baiknya tak lekas merasa nyaman atau malah jemawa.

Sebaliknya, kalau saat ini kamu masih belum punya pekerjaan mapan, atau skripsi belum kelar, atau tidak sekeren postingan teman-teman sebaya, jangan terlalu khawatir. Itu juga tak akan berlangsung selamanya. Jadi, jangan menyerah dulu.
Tak ada yang permanen di dunia ini. Jangan lekas berhenti, juga jangan cepat menyerah. Lha orang pacaran bertahun-tahun saja bisa putus dan berakhir dengan yang lain di pelaminan, kok.

Hal kedua, dan menurutku ini saran yang tak akan pernah usang bagi usia berapa pun, jaga kesehatan. Tak pernah terlalu muda untuk menjaga kesehatan. Dan meski terdengar klise, kesehatan itu penting. Juga jangan menunggu sakit untuk menyadarinya. Sakit itu gak enak. Apalagi kalau penyakit yang dampaknya tak bisa diperbaiki. Gagal ginjal misalnya. (*brb minum air putih dulu*).

Jaga kesehatan sebisa mungkin, nge-gym, lari, diet, ga makan gorengan, tidur lebih cepat. Apa pun, meski kalau boleh menambah pantangannya, aku tidak menyarankan mengonsumsi suplemen. Aku pribadi lebih suka yang alami. Makan buah yang banyak. Makan sayur. Minum air putih. Sebisa mungkin jangan terlalu sering begadang.

Kupikir, ini hal penting yang aku pelajari sebagai seseorang yang berusia 30 1/2 tahun, dan yang ingin aku bagikan pada mereka yang lebih muda. (Eww, sounds old). Aku akan menutup tulisan ini dengan kutipan dari drakor favoritku saat ini.

QuickMemo+_2018-01-18-09-29-21
credit: anidrama Tumblr

 

 

 

Antusiasme Januari

Aku kesulitan mengingat apakah aku punya atau bikin resolusi atau tidak untuk tahun ini. Yang aku ingat, aku ingin 2017 lekas berakhir. Mungkin karena 2017 terasa tak lagi menjanjikan dan absurd hingga aku ingin 2017 lekas berlalu. Mungkin juga karena aku punya harapan 2018 menjadi lebih baik. Atau karena ada banyak hal yang ingin kulakukan di tahun 2018. Namun, semua lekas menguap di pertengahan Januari ini. Antusiasmeku menyambut 2018 mulai memudar. Kupikir, this will be just another year.
Seperti yang ibuku bilang, aku orangnya gampang bosan. Aku ingin melawan label ini. (Moms anywhere, please, please, please, dont label your kid.) Namun, aku mendapati diriku memang lekas bosan. Misalnya, bulan ini aku ikut 30 Hari Bercerita di Instagram, hari kesepuluh, aku sudah bosan. Bukan lantaran aku tak ada ide. Ya, bosan. Menulis di Instagram menjadi rutinitas. Dan aku merasa ceritaku membosankan. Meski ada beberapa orang yang menyampaikan rasa suka mereka. Atau mungkin aku juga sudah bosan dengan Instagram sendiri?

Berita baiknya, aku masih tetap menulis di Instagram. Posting satu cerita setiap hari. (Tahun ini aku berencana membuat serial dengan tagar #AndaiPintuBercerita. Akun instagramku di sini, btw). Meski hari ini tiba-tiba tak ingin posting lagi. Mungkin memang harus begitu melawan bosan. Paksa terus. Mungkin begitu juga seharusnya melawan rasa malas. Paksa terus.
Sisi lain diriku sedang berkata aku seharusnya menulis semua hal yang ingin aku lakukan. Buat jadwal. Tempel di rumah. Mumpung masih Januari kan, ya? Ini yang aku sebut antusiasme Januari. Masih awal jadi aku masih merasa semua bisa diperbaiki sejak dini. Masih awal jadi ingin mencoba banyak hal lain. Sebelum tiba-tiba bosan menyerang lagi.

Kalau ada yang tahu cara menghilangkan kebosanan, boleh dong berbagi.

By the way, ada yang belum punya kalender? Ada kalender unyu, nih. Sila unduh di sini.

K-Drama Favorit: Because This Is My First Life

Disclaimer: SPOILER ALERT.  Kalau kalian menemukan tulisan ini dan kurang suka dengan spoiler, sebaiknya jangan baca tulisan ini. 

Because_This_Is_My_First_Life-P1

 

Jadi, ini adalah draf ketigaku untuk review drama ini karena ada banyak sekali hal yang ingin aku tulis tentang drama ini. Tentu karena aku suka sekali drama ini. Apalagi aku menemukan beberapa situs menyebut drama ini sebagai salah satu drama terbaik tahun ini. Yah, kadang kita, aku, butuh validasi juga (salah satunya artikel ini). Sudahkah aku bilang aku suka sekali drama ini? So, let’s find out what I can write in this third draft.

Jalan Cerita

Nam Se Hee membutuhkan penyewa rumah yang tak keberatan menyortir sampah dan mengurus kucingnya. Yoon Ji Ho membutuhkan tempat tinggal yang murah dan bisa melakukan apa saja untuk mendapatkannya. Ji Ho akhirnya tinggal di rumah Se Hee, tanpa mereka ketahui bahwa mereka berbeda jenis kelamin. Namun karena kebutuhan, keduanya sepakat menikah dengan kontrak dua tahun. Kebutuhan Ji Ho akan tempat tinggal terpenuhi, begitu juga kebutuhan Se Hee akan penyewa rumah. Plus, Se Hee bebas dari desakan ibunya untuk menikah. Dan seperti yang bisa ditebak, tinggal seatap membuat keduanya jatuh cinta.

Selain kisah keduanya, ada juga kisah sahabat mereka. Yang Ho Rang, sahabat Ji Ho, yang sudah berpacaran selama tujuh tahun dan ingin segera menikah agar bisa diterima di masyarakat dengan pacarnya, Shim Won Seok. Juga kisah Woo So Ji, sahabat Ji Ho juga, yang harus menghadapi perlakuan seksis di tempatnya bekerja. Dan kisah cintanya dengan CEO Ma, sahabat Se Hee.

Karakter Favorit

Nam Se Hee

Alasan utamaku menonton drama ini adalah Lee Min Ki yang memerankan Nam Se Hee dengan sangat luar biasa baik. Karakter Se Hee yang cool, penuh perhitungan, dewasa, antisosial, sekaligus rebel terasa begitu nyata. Kesan pertama karakter Se Hee memang cool dan antisosialnya. Namun, aku lihat sebenarnya Se Hee orang yang sangat perhatian. Terlihat dari interaksinya dengan Ji Ho. Saat Se Hee menanyakan kegiatan seharian Ji Ho, keluarganya, dsb. Atau ketika interaksi Se Hee dengan satu-satunya teman kerja wanitanya, Bo Mi.

Salah satu yang sangat berkesan dari drama ini adalah dinamika perkembangan karakternya. Se Hee memang cool, tapi akan ada saat di mana Se Hee juga bisa begitu emosional dan semua kecerdasannya tak bisa berkutik di hadapan cinta. Dan menurutku justru inilah sisi manusiawi Se Hee. Also, he loves cat.

Yoon Ji Ho

Anak desa yang merantau dan bercita-cita menjadi penulis. Gila. Bertekad baja. Dan cuek dan kadang gak peka. Sifat Ji Ho yang aku suka adalah keterbukaannya tentang perasaannya, kebingungannya, ketaksukaannya pada sesuatu. Dan sifat ini yang membuat interaksinya dengan Se Hee terasa begitu dinamis, enggak melulu romantis. Karakter Ji Ho yang punya banyak aspek terasa begitu nyata juga buatku. Ji Ho yang mencuri hati Se Hee dan para penonton drama ini diperankan oleh Jung So Min.

Woo Soo Ji

Woo Soo Ji adalah teman Ji Ho sejak SMA. Cita-citanya adalah menjadi CEO dan dia berusaha keras mewujudkannya. Bekerja keras di sebuah korporasi besar dan menahan diri dari serangan dan sikap seksis rekan kerjanya. Dia juga setia kawan dan pembela HAM. Di balik sikap dan kesan galaknya Soo Ji sebenarnya anak yang sayang ibu dan menggunakan sikap galaknya tak lain demi melindungi diri. Selain dua tokoh utama di atas, karakter Soo Ji ini yang paling menarik perhatianku. Aku suka karakternya yang tangguh, sekaligus punya sisi rapuh yang membuatnya jadi terasa nyata. Soo Ji diperankan oleh Esom.

CEO Ma

Ma Sang Goo atau CEO Ma adalah sahabat sekaligus atasan Se Hee. CEO Ma ini atasan idaman. Perhatian dan penyayang pada karyawannya. Romantis. Dan pintar bergaul. Kalau ga ada Se Hee hatiku tentu sudah jatuh pada CEO Ma yang superbaik. CEO Ma diperankan dengan apik oleh Park Byung-Eun.

Sudahkah aku bilang aku suka sekali drama ini? Rasanya ini drama pertama yang hampir setiap adegannya masih aku ingat bahkan beberapa hari setelah selesai menontonnya. Ada beberapa hal yang membuatku begitu menyukai drama ini.

1. Ceritanya

Tema dan garis besar cerita drama ini boleh mirip dengan drama lain, Full House misalnya. Namun, cara penulis skenario membuka lapis demi lapis ceritanya begitu menarik. Misalnya jika mengulas dari aspek cerita cintanya. Aku suka cara drama ini mengulang-ulang momen saat Se Hee dan Ji Ho pulang kantor bersama atau menonton bola bersama. Duduk berdampingan. Ngobrol soal bola atau soal hari mereka. Menurutku repetisi macam ini membangun kesan kuat di benak penonton.

Hal lain yang sangat aku sukai dari cerita drama ini adalah betapa relatable drama ini dengan masalah yang dihadapi orang berusia 30an. Mengejar mimpi, dibenturkan dengan kenyataan berupa kewajiban mencicil rumah, bahwa sekadar keinginan kuat dan tekad baja tak lantas membuat jawalan untuk mewujudkan mimpi menjadi mudah, juga tekanan untuk menikah. Semua disajikan dengan dialog-dialog yang sering bikin nyengir sendiri. Maka kurasa drama ini lebih sesuai jika ditonton penonton usia akhir 20-an. Apalagi adegan-adegan percintaannya model percintaan orang dewasa yang tak sungkan berbicara tentang seks.

2. Interaksi antarkarakter

Aku juga sangat menyukai interaksi antarkarakter drama ini. Terutama antara Se Hee dan Ji Ho. Aku suka betapa Se Hee dan Ji Ho bisa mengobrolkan banyak hal, khususnya soal hidup. Aku sangat menikmati obrolan mereka di sofa sambil nonton sepak bola, juga saat mereka ngobrol di pantai. Dan menurutku chemistry keduanya dapet banget.

because-this-is-my-first-life15

Meski dingin, interaksi Se Hee dan beberapa karakter lain dalam drama ini juga bikin nyengir-nyengir sendiri. Terutama dengan teman-teman kantornya. Dan tak lupa, hangatnya persahabatan Ji Ho, Soo Ji, dan Ho Rang. Rasanya anget di hati lihat mereka.

3. Feminisme

Pesan feminisme dalam drama ini menurutku sangat kuat. Sifat Ji Ho yang terbuka dan sering berani menunjukkan ketidaksukaannya, menurutku merupakan salah satu pesan bahwa karakter utama di drama tak melulu harus selalu lemah dan tak berdaya. Ji Ho bahkan berani melawan saat nyaris menjadi korban pelecehan seksual.

Karakter Soo Ji tentu menjadi karakter wanita paling keren dalam drama ini. Setelah lama menahan diri Soo Ji pada akhirnya membalas perlakuan seksis rekan kerjanya. Hadirnya karakter dan cerita yang dialami Ji Ho dan Soo Ji menurutku merupakan cara penulis drama ini menunjukkan bahwa di Korea Selatan pun wanita masih sering dipandang sebelah mata dan rawan dilecehkan bahkan di lingkungan kerjanya.

because-this-is-my-first-life16

4. Ending-nya

Aku menemukan bahwa cukup banyak yang gak sreg dengan bagian akhir drama ini, termasuk teman-temanku. Namun, aku justru merasa ending-nya sangat memuaskan. Agak kurang smooth, sih. Mungkin karena di bagian ending banyak monolognya Ji Ho dan jujur aku masih belum begitu paham juga, dan berencana menontonnya ulang.
Aku suka bagaimana hubungan Se Hee dan Ji Ho “diakhiri”. Dengan ngobrol. Obrolan antara dua orang dewasa yang akhirnya mencapai kesepakatan untuk mengejar kebahagiaan mereka. Dasarnya aku memang suka dengan cerita dua orang dewasa yang saling mencintai dan bisa mengobrol tanpa jadi terlalu cheesy adegannya.

5. Quotes
Menurutku kekuatan drama ini ada di dialog-dialognya yang begitu nyata dan kadang bikin nyengir. Terutama jika penontonnya berusia 30an. Dan aku pikir aku lebih baik bikin postingan khusus kutipan dari drama ini.

IMG_20171220_130417
Sumber: @kdramatroll

Untuk mengakhiri tulisan ini, aku cuma ingin bilang bahwa aku senang sekali bisa menonton drama ini. Banyak yang bisa dipelajari dan terasa hangat di hati. Semoga Lee Min Ki dan segenap kru drama ini selalu sehat dan bahagia. Dan kalau ada yang membaca tulisan ini sampai akhir, aku sarankan tonton, deh, drama ini. Dan terima kasih, tentu saja.

firstlife7-00029a
Salam dari Si Lesung Pipit, Bok Nam

So Long, Pak Bondan

Aku suka sekali sama Pak Bondan Winarno (alm.). Alasannya, beliau sangat cerdas dan luas pengetahuannya. Seperti kebanyakan orang, aku mengenalnya lewat acara Wisata Kuliner yang populer beberapa tahun lalu. Dan menurutku, meski ada begitu banyak acara serupa, tak ada yang sehebat Pak Bondan dalam membawakannya. Hanya Pak Bondan yang mampu membuatku menonton acara kulineran, tapi mendapatkan tak sekadar bagaimana rasa makanan yang dicicipi, tetapi juga sejarahnya. Menurutku pula, Pak Bondan mengubah budaya orang Indonesia masa kini. Wisata kuliner kini jadi semakin hits. Jadi, kaget sekali ketika temanku bilang beliau meninggal dunia. Apalagi sekitar semingguan lalu aku baru meninggalkan komentar di postingannya di Instagram. Aku buru-buru googling kebenarannya, dan, ya, beliau memang meninggal dunia. Nyesek dan sedih sekali mendengarnya.
Namun ada semacam blessing in disguise dalam kematian orang terkenal, yaitu betebarannya tulisan tentang almarhum dari orang-orang yang mengenalnya. Dan tak sedikit dari tulisan itu yang menceritakan berbagai macam sisi yang belum pernah diceritakan mengenai almarhum. Untuk Pak Bondan, yang paling banyak soal fakta bahwa Pak Bondan adalah sosok dengan berbagai profesi, yang dijalaninya dengan sukses. Menurutku, tak lain ini karena prinsip yang beliau anut sebagaimana tertulis di bio twitternya, On my honor, I will do my best.
Cerita lain yang menurutku seru adalah cerita tentang buku beliau, Bre-X. Aku sempat membaca beberapa artikel tentang penulisan Bre-X yang beliau tuliskan karena penasaran dengan “kematian” seorang pengusaha tambang. Lewat buku itu juga terbukti bahwa kematian sang pengusaha cuma rekayasa penipuan. Berkat karya ini Pak Bondan dianggap sebagai salah satu wartawan investigasi terbaik. Aku punya cerita sendiri soal karya Pak Bondan yang ini. Pak Bondan pernah no mention aku karena aku bertanya tautan untuk mengunduhnya. No mention bernada nyindir bahwa aku seharusnya be resourceful dengan mencari terlebih dahulu sebelum bertanya. Interaksi ini sedikit banyak mengubah perilakuku di media sosial. Aku jadi terbiasa googling dulu sebelum bertanya atau minta tautan.
Aku akhirnya belum jadi baca Bre-X, tapi aku punya karya beliau yang lain, kumpulan cerpennya berjudul Petang Panjang di Central Park. Saat pertama kali mendengar beliau menerbitkan kumpulan cerpen, aku yakin bukunya akan bagus. Dan memang demikian adanya. Cerita-cerita pendek dalam buku itu menggambarkan betapa luas pengetahuan beliau. Ceritanya cocok dengan seleraku. Romantis tapi tak terlalu berlebihan. Menariknya lagi banyak di antara cerpennya dituliskan di bandara atau di pesawat. Sambil nunggu saja. Dan hasilnya bagus.
Satu hal lagi yang sangat berkesan buatku adalah wawancara lamanya di acara Just Alvin. Dalam wawncara itu beliau cerita banyak hal, sering dianggap ketus dan galak, dan ini beliau akui benar. Beliau cerita paling tak suka disapa, “Bapak masih ingat saya?” Beliau juga bilang kalau bertemu ya, baiknya, perkenalkan diri dulu, selalu. Ini jadi acuan sopan santun buatku.
Aku memang tak pernah ketemu langsung dengan Pak Bondan. Namun, aku percaya pertemuan itu banyak bentuknya, dan tak harus bertemu muka untuk bisa mengizinkan seseorang menyentuh hidupku. So long, Pak Bondan. Meminjam istilah Sudjiwo Tejo, aku selamanya utang rasa kepadamu.
QuickMemo+_2017-12-02-00-07-20
Pelajaran lain dari Pak Bondan
Catatan:
* Salah satu artikel tentang almarhum yang paling menarik karena membuka kisah yang tak terduga buatku adalah tulisan Gus Candra Malik di sini.
** Artikel obituari yang menurutku paling lengkap karena memuat tautan ke berbagai wawancara dengan beliau ada di sini.
*** Jikalau tertarik dengan Bre-X, bisa di unduh di sini.