Kind Words

 

Kind words cost nothing.

Pernah dengar istilah ini? Istilah ini adalah anjuran supaya kita lebih selektif dalam bertutur. Pilih dan ucapkan kata-kata yang baik saja. Apalagi di saat-saat sulit. Ya, toh, mengucapkan hal baik itu ga butuh biaya, cost nothing. Enak didengar pendengarnya, dan tahu gak? Enak juga dirasain sama yang ngomong. Setidaknya begini pengalamanku.

Beberapa hari ini dadaku serasa dihimpit batu besar dan rasanya ada yang mau meledak setiap saatnya. Hal-hal yang berjalan tak sesuai dengan rencana dan sindrom pramenstruasi menjadi salah dua penyebabnya. Setiap hal kecil, sepele, rasanya membuat aku pengen makan orang. Atau menyemburkan api dan membakar kota, kalau bisa. Parahnya, aku adalah jenis orang yang lebih suka memendam apa yang aku rasakan. Ya, meski kadang-kadang aku curhat tipis-tipis ke teman. Atau hari ini aku mencoba ini, menuliskannya.

Di saat sedang luar biasa kesal ini, ternyata mengatakan hal yang baik bisa sedikit melumerkan hati dan mendinginkan kepala. Atau menahan naga kecil dalam diri agar tak lekas menyemburkan api kemarahan.

Pagi ini, ini yang aku bayangkan, mengucapkan terima kasih kepada seseorang yang mengingkari janjinya. Ini soal pekerjaan. Jadi, aku membayangkan akan mengucapkan terima kasih karena sudah membantuku, meski terlambat dan lain sebagainya. Berterima kasih atas bantuannya dan sedikit memuji betapa bagus hasil kerjanya. Bahkan membayangkan ini, rasanya aku merasa sedikit lebih baik. Cuma sedikit. Tak masalah, setidaknya lebih baik meski cuma sedikit.

Aku bukan orang yang percaya sama motivator yang suka ngomong tinggi-tinggi soal positive vibes, dll. Namun, ini yang aku percaya karena pengalamanku. Kind words cost nothing and it eases your heart a bit. Tertarik mencoba?

 

Iklan

Pelajaran Menulis

Salah satu pelajaran menulis yang paling berkesan buatku berasal dari dosen pembimbing skripsiku, Bapak Bernardus Hidayat. Seperti banyak mahasiswa tingkat akhir, proses penulisan skripsiku sedikit tersendat. Dan mengingat masa itu, aku tak yakin apa sebabnya. Namun, saat akhirnya proses penulisan skripsiku dimulai dan berjalan, aku mendapat pelajaran yang bahkan sampai sekarang aku ingat.

Salah satu pelajaran terpenting dalam hal tulis-menulis adalah, jangan mengasumsikan pembacamu sudah tahu apa yang kamu maksud. Saat itu konteksnya aku diminta menjelaskan dengan lebih rinci pendapat dalam skripsiku. Agar pembaca lebih paham bagaimana aku bisa sampai ke kesimpulan yang kusampaikan. Proses berpikir itu kan aku yang mengalami. Jadi, belum tentu pembaca mengerti bagaimana aku bisa sampai menyimpulkan demikian.

Meski konteksnya waktu itu adalah penulisan karya ilmiah, pelajaran menulis ini menurutku bisa diterapkan di penulisan berbagai jenis tulisan. Bahkan fiksi. Saat penulis fiksi berasumsi bahwa pembacanya sudah paham yang ia tulis, yang lahir adalah tulisan-tulisan dengan deksripsi yang dangkal dan sekenanya saja hingga akhirnya pembaca tidak bisa menyelami apa maksud dan mau penulis.

Pelajaran menulis dari dosenku ini sesekali muncul saat aku menghadapi naskah yang menyiratkan bahwa penulisnya memiliki pandangan, “pasti udah ngerti, ya.” Atau penulisnya sekadar malas membeberkan apa yang ia tulis. Bagaimanapun, menulis adalah salah satu cara penulis berkomunikasi dan menyampaikan idenya kepada pembaca. Jika belum apa-apa penulis sudah berasumsi pembaca mengerti, lantas, bagaimana idenya tersampaikan dengan baik?

Melintasi Waktu di Kota Lama

Aku berdiri di sebuah perempatan di jalan Kepodang kawasan Kota Lama Semarang. Saat itu aku membayangkan dokar, mobil-mobil lama, orang-orang berpakaian a la Belanda atau warga pribumi dengan iket di kepalanya lalu lalang. Saking nyatanya bayanganku, aku seperti dilempar ke Semarang di era Kolonial. Absurd juga rasanya.

jalan kepodang

Aku baru pertama kali mengunjungi Kota Lama Semarang. Telat banget, ya. Sudah lama ingin ke sini, tapi baru kesampaian kemarin. Aku datang tanpa ekspektasi meski sudah pernah melihat gedung cafe Spiegel dan Gereja Blenduk wara-wiri di internet. Dan begitu sampai sana, aku benar-benar terpesona. Sangat tidak menyangka kalau ada kawasan seindah itu. Indah karena aku memang penggemar gedung tua.

Kawasan Kota Lama letaknya tak jauh dari Stasiun Tawang. Dari pintu keluar, tinggal nyebrang, lurus, ada perempatan dengan gedung pabrik rokok Praoe Lajar di sisi kanan, lurus lagi. Dari sini sudah terlihat kubah Gereja Blenduk. Mentok pertigaan, belok kiri, ada belokan ke kanan, lurus. Pas sampai di samping Gereja Blenduk. Sebenarnya bisa juga kalau mau naik becak. Ada beberapa tukang becak yang menawarkan mengantar dengan tarif sepuluh ribu rupiah.

Gereja Blenduk

Seperti yang sudah kubilang di atas, aku ini penggemar gedung dan rumah tua. Jadi, begitu sampai di Gereja Blenduk rasanya seperti di dalam mimpi karena selama ini aku cuma melihatnya di TV atau internet. Hatiku makin nyes saat melihat gedung Jiwasraya di depannya. Dan terasa dilempar menjelajah waktu saat berkeliling kawasan tersebut.

Jalan favoritku, sejauh ini, adalah Jalan Kepodang. Bagian jalan ini sepertinya belum banyak diperbaiki sehingga masih ada beberapa gedung tua yang masih terbengkalai. Bahkan di salah satu gedung (atau rumah?) ada sisa-sisa akar pohon di bagian atasnya. Ya, di bagian atasnya. Entah bagaimana bisa ada pohon di sana.

akar pohon

Di salah satu gang di sekitar Jalan Kepodang ada sebuah spot foto yang sangat terkenal. Di situ ada bangunan tua dengan pohon di temboknya. Benar-benar tumbuh di temboknya dengan akar dan batang yang seolah siap menjebol bata penyusun tembok. Aku sampai harus balik dua kali agar adik-adikku bisa berfoto di situ. Aku sendiri cukup memfotonya dari jauh. Minder karena yang berfoto di situ pakai kamera dan hape mahal.

20180414_121627-1305x736

Aku tak lama berada di Kota Lama. Udara Semarang yang terasa panas luar biasa ternyata mengalahkan tekadku untuk berkeliling-keliling lebih jauh. Aku lantas membayangkan suatu hari kembali ke sana dan berkeliling naik sepeda. Meski aku tak yakin akan benar-benar membawa sepeda, Kota Lama, aku akan kembali.

 

 

 

Drakor Favorit: Avengers Social Club

Avengers_Social_Club-p002

Salah satu alasan aku suka menonton drama Korea Selatan adalah ide ceritanya yang beragam dan unik. Misalnya saja drakor yang baru selesai aku tonton, Avengers Social Club. Menurut Asian Wiki, drama ini berdasarkan sebuah komik web berjudul “Buam-dong Boksooja Soshyeolkeurub”.

Avengers Social Club bercerita tentang sebuah perkumpulan balas dendam dengan anggota tiga orang wanita dan seorang anak SMA. Balas dendam kepada siapa? Kepada siapa saja yang pernah menzalimi mereka, mulai dari suami yang berselingkuh, sampai wanita (sok) kaya yang semena-mena. Namun, drama ini bukan jenis drama kriminal maupun drama yang sedih dan mengharu biru, melainkan drama komedi yang lucu dan enteng ditonton.

cau-lac-bo-bao-thu-avengers-social-club-2017-1-1512371092
sumber: google image

Avengers Social Club adalah sebuah perkumpulan yang diinisiasi oleh Kim Jung Hye (diperankan oleh Lee Yo Won), istri dan anak konglomerat kaya yang suaminya membawa “pulang” anak hasil hubungan gelapnya. Diceritakan Jung Hye tidak memiliki keturunan sehingga suaminya membawa pulang anak hasil hubungan gelapnya yang sudah berusia 18 tahun sebagai calon penggantinya kelak. Jung Hye merasa marah, tetapi nyaris tak berdaya dengan situasi yang dihadapinya.

Saat lagi ngopi cantik, Jung Hye bertemu dengan Hong Do Hee (diperankan dengan kece oleh Ra Mi Ran), seorang janda yang bekerja sebagai penjual ikan. Saat itu Do Hee tengah bertemu dengan seorang wanita kaya yang berusaha memerasnya setelah anak Do Hee berantem dengan anak si wanita kaya. Melihat perlakuan semena-mena si wanita kaya kepada Do Hee, Jung Hye jadi terinspirasi membuat klub balas dendam. Untuk mewujudkannya, Jung Hye mengajak Lee Mi Sook (diperankan oleh Myung Se Bin), seorang wanita halus lembut yang menjadi korban KDRT suaminya yang tak lain merupakan sahabat suami Jung Hye.

Tiga orang ibu-ibu berkumpul dan berencana balas dendam, hasilnya tentu tak serapi para penjahat profesional. Hampir semua aksi mereka gagal hingga datang “bala bantuan” berupa kecerdasan anak muda yang bernama Lee So Gyum (diperankan oleh Jun). So Gyum adalah anak hasil hubungan gelap suami Jung Hye. So Gyum rupanya juga ingin membalas dendam kepada ayah dan ibu kandungnya yang mencampakkannya dan kini memanfaatkannya untuk mendapatkan materi.

Cerita drakor ini enteng saja sebenarnya. Balas dendamnya pun tak rumit dan kadang malah berakhir konyol. Namun, sambil nonton aku memperhatikan beberapa hal yang bisa dibilang “hikmah”. Pertama soal betapa setiap orang memiliki “pertempuran” mereka sendiri. Jung Hye dan Mi Sook terlihat memiliki kehidupan sempurna, tetapi nyatanya hidup mereka pun tak bahagia. Meski kaya raya, hidup Jung Hye tak bahagia tak cuma karena memiliki suami yang punya anak dari hubungan gelap, tetapi juga karena kesepian dan cuma dianggap boneka.

Jung Hye ternyata memiliki nasib sama seperti So Gyum. Dia adalah anak hasil hubungan gelap ayahnya yang konglomerat. Jung Hye bahkan tak pernah melihat ibunya. Jung Hye lantas menikah dengan Lee Byung Soo untuk memperkuat perjanjian kerja sama antara perusahaan ayah Jung Hye dan ayah Byung Soo. Hidup Jung Hye dianggap makin tak bernilai karena tak bisa memberikan keturunan.

Maka klub balas dendam alias Bokja Club yang ia inisiasi bukan cuma sarana balas dendam, melainkan sebagai bagian dari proses tumbuhnya dalam hidup. Di Bokja Club, Jung Hye menemukan “keluarga” baru yang siap mendukung dan menghiburnya, juga tak menganggapnya sebagai sesuatu yang tak bernilai. Jung Hye pun berproses dari seorang wanita yang pasrah saja menerima nasib sebagai seorang istri yang sekadar agar hubungan dua perusahaan tak hancur, menjadi seorang wanita yang mampu memperjuangkan dirinya sendiri dan tak takut menjalani hidupnya sebagai Jung Hye, bukan sebagai istri maupun anak konglomerat.

Mi Sook yang awalnya memilih bertahan demi putrinya, juga berubah dan menyadari bahwa bagaimanapun kebahagiaannya sendiri lebih penting. Mi Sook yang pasrah dan takut kehilangan keluarganya jadi berani melawan suaminya dan dengan demikian menyelamatkan dirinya dan putrinya dari kehidupan dalam rumah tangga yang “beracun”.

Avengers Social Club tak cuma jadi contoh beragamnya ide cerita drakor, tetapi juga kecerdikan para pembuat drakor mengemas isu penting dengan cerita yang segar dan ringan. Ini yang jadi alasan lain aku masih suka nonton drakor. Satu hal lain yang tak bisa aku abaikan dari drakor ini adalah betapa fashionable-nya Jung Hye dan Mi Sook. Jadi, drama ini tak sekadar menghibur hati, tetapi juga menghibur mata bagi pecinta visual cantik sepertiku.

 

 

Cerita Nonton: Love for Sale

love for sale

Kalau bukan karena postingan Instastory-nya Joseph Sudiro, aku mungkin tak akan menonton Love for Sale. Udah sangsi sendiri pada judulnya yang mirip-mirip sama judul FTV. Namun, apa sih bagusnya sampai Joseph Sudiro nonton dan memujinya? Rasa penasaranku sama film ini makin besar gara-gara linimasa Twitterku bertaburan dengan pujian pada film ini. Pujian dan bocoran, lebih tepatnya. Namun, aku masih penasaran juga sama filmnya. Ya, sekalian nyari bahan buat tulisan di blog.

Love for Sale bercerita tentang Richard, seorang pria berusia 41 tahun yang menjomlo. Richard ditantangin sampai jadi bahan taruhan untuk bawa pacarnya ke pesta pernikahan temannya, Rudi. Richard yang dikejar deadline, menyasar siapa saja, mulai teman-teman lamanya sampai karyawati di percetakan miliknya. Jalan keluar dari masalah Richard adalah Love.inc, sebuah aplikasi kencan yang lantas mempertemukannya dengan Arini. Arini yang manis, pengertian, pintar memasak, paham sepak bola, dan gak malu-malu kucing membuat Richard jatuh hati.

love for sale2

Saat dua orang bertemu dan jatuh hati, kemungkinannya cuma dua, bakal berlanjut atau berpisah. Kelanjutan dari hubungan Richard dan Arini ya cuma dua itu. Jadi atau pisah. Namun, kupikir inti dari cerita film ini bukan soal kelanjutan hubungan mereka, melainkan tentang bagaimana cinta mengubah seseorang.

Di awal film kita akan ketemu Richard yang sangat menyebalkan, terutama dari sikapnya ke karyawan-karyawannya. Demanding, perhitungan, juga gak segan-segan memecat karyawan karena masalah sepele. Setelah bertemu Arini, Richard mulai berubah. Dan makin berubah di akhir filmnya, jadi lebih luwes. Dan mungkin itu sebenarnya jati diri Richard.

Meski judulnya mirip kaya FTV, Love for Sale bukan film romantis pada umumnya yang klise yang menawarkan akhir bahagyaa selamanyaa. The End. Film ini justru memberi ruang yang luas bagi penontonnya untuk berimajinasi dan menginterpretasikannya. Dan bagiku terasa menyenangkan. Selepas film usai, perasaanku masih campur aduk. Bingung dengan apa yang barusan aku tonton, sekaligus terhibur dan tersentuh juga. Karenanya aku biarkan film ini tumbuh dalam diriku sendiri, hingga aku sampai pada kesimpulan, “lha kok bagus”. Dan rasanya aku pengen nonton lagi. Menikmati detail-detail yang terlewatkan dan mengingat puisi di akhir film.

Aku suka dengan ruang kosong yang diciptakan agar penontonnya mikir sendiri ini.  Aku suka dengan ending-nya, keputusan Richard dan pantai yang menutup film. Aku juga suka dengan bagaimana Richard akhirnya sadar tentang apa yang terjadi. Juga suka dengan bagaimana film ini mencoba bilang bahwa kehadiran orang lain bukan jawaban buat kesepian yang kamu rasakan.

 

Drakor Favorit: Prison Playbook

Wise_Prison_Life-P1
Sumber: AsianWiki

Even when things seem to go well,
life can take an unexpected turn.

Kim Min-chul, Prison Playbook

Di puncak kariernya sebagai atlet bisbol, Kim Jee-hyuk (Park Hae-soo) terpaksa melepaskan semua kemewahan, juga kejayaan, dan meringkuk di penjara setelah dituduh menyerang seorang pria yang memerkosa adik perempuannya. Di penjara, Jee-hyuk bertemu dengan berbagai jenis manusia, mulai dari residivis, pecandu narkoba yang teler, sampai sipir penjara yang ngeselin tapi ngangenin. Di penjara juga Kim Jee-hyuk bertemu kembali dengan seorang sipir yang merupakan sahabat lamanya, Lee Joon-ho (Jung Kyoung-ho).

wise prison life-2
Sumber: banghae on Tumblr

Prison Playbook atau Wise Prison Life berpusar pada kehidupan Kim Jee-hyuk di penjara. Jalan ceritanya sederhana saja menurutku. Tak ada adegan kabur-kaburan atau aksi yang bikin adrenalin naik. Namun, bukan berarti ceritanya menjadi membosankan. Bagiku nonton drakor ini seperti duduk nyender di kursi empuk sambil lihat pemandangan danau yang tenang. Santai dan nyaman. Belum lagi tak sedikit bagian ceritanya yang bikin hati hangat.

Elemen utama yang paling menonjol dalam drakor ini, menurutku, adalah para tokohnya. Setiap tokohnya dibuat sedemikian rupa hingga mampu membuat penonton tersenyum geli sampai berkaca-kaca. Tokoh utamanya, misalnya, Jee-hyuk digambarkan sebagai sosok yang sederhana dan mengikuti naluri. Pas dengan profesinya sebagai atlet yang cenderung lebih mengandalkan naluri saat bertanding. Atau tokoh Yoo Han-yang (Lee Kyu-hyung), seorang pecandu yang sehari-hari cuma gelosoran dan selimutan. Han-yang yang haus perhatian dan kasih sayang selalu nempelin teman-teman sekamarnya. Tokoh-tokoh dengan karakter unik ini sukses mencuri perhatian penonton berkat akting para aktor dan aktrisnya yang ciamik

Tak sekadar membuat penonton tersenyum dan berkaca-kaca, para tokoh dalam drakor ini juga menunjukkan betapa manusia banyak lapisannya. Apa yang tampak dari penampilan seseorang tak lantas merepresentasikan diri mereka sebenarnya. Misalnya Kim Min-chul, napi yang masuk penjara karena terlibat kasus pembunuhan. Meski terlihat garang dengan tato dan postur tubuhnya yang besar, Min-chul sebenarnya taat beribadah dan nrimo. Atau tokoh Dolman preman yang ternyata rindu dianggap sebagai manusia.

Aku awalnya memutuskan menonton drakor ini tanpa ekspektasi apa-apa, selain lihat Jung Hae-in yang memerankan Kapten Yoo. Namun, akhirnya aku malah jatuh cinta pada Lee Joon-ho, Han-yang, Beobja, juga Letnan Paeng yang sok jaim tapi aslinya perhatian. Drama yang layak ditonton saat kamu butuh hiburan sederhana yang lucu dan menghangatkan hati.

wise prison life-1
Sumber: Tumblr

Terakhir, aku tutup dengan kutipan favoritku dari drama ini.

What is the standard of happiness? Someone once said, ‘If not for what other people think, your standard for happiness would be much lower than you think.’ Everyone, don’t base your standard of happiness on other people’s opinions.

Masih Nulis? Kenapa Gitu?

Sewaktu SMA, aku pernah nyeletuk pada teman sebangkuku kalau aku ingin jadi penulis. Lalu, selepas kuliah, aku benar-benar jadi penulis. Penulis soal LKS yang dibayar dengan sangat murah. Dan ketika tahu, teman yang dulu sebangku denganku bilang, “wah akhirnya kamu benar-benar jadi penulis, ya.”

Aku akhirnya meninggalkan pekerjaan itu dan jadi editor sampai sekarang. Ya, masih di galaksi yang sama dengan penulis. Tapi, bukan itu alasanku tetap menulis, meski cuma di blog atau status, sampai sekarang.

Aku tak mengimani kalimat Pram yang begitu legendaris, “menulis untuk keabadian”. Aku juga tak mengimani bahwa menulis itu untuk menebar manfaat apalagi berdakwah. Aku menulis karena itu membantuku berpikir dengan logis dan tertata, juga membantuku mengetahui apa yang sebenarnya aku pikirkan. Terkadang hasilnya bisa jadi di luar dugaanku sendiri. Misalnya saat aku berhasil menyelesaikan tantangan 30 Hari Bercerita di Instagram. Siapa sangka aku bisa menulis cerita pendek tiga puluh hari berturut-turut, dan bahkan aku masih punya beberapa stok cerita yang tak/belum aku posting.

Aku menulis untuk membantuku mengetahui apa yang sebenarnya ada di otakku. Ini yang saat ini banget aku lakukan. Berusaha mencari tahu dan mengeluarkan unek-unek lewat menulis. Jadinya, ya, tulisan yang terkadang mbulet dan amburadul. Sesuatu yang sebagai editor, kubenci. Malu, tulisan editor, kok, berantakan. Tapi, ya, sudahlah. Aku tetap menulis.

Sudah beberapa lama sejak terakhir kali aku posting untuk 1 Minggu 1 Cerita. Aku lagi mikir, haruskah aku teruskan ikutan gerakan ini? Atau menyerah saja, ya? Satu-satunya alasanku tetap ikut adalah karena ini komunitas, aku bisa dapat beberapa pembaca dari 1 Minggu 1 Cerita. Jujur, tak ada motivasi lain. Meski cuma unek-unek, seneng, to, kalau ada yang baca?

Kalau ada yang baca tulisan ini lewat 1 Minggu 1 Cerita, apa yang membuat kalian bertahan? Dan lebih jauh, apa yang membuat kalian tetap menulis? I would love to hear.

2:30 pm

Why Dilan?

dilan
Sumber: Google

Saat aku menonton Dilan 1990 kemarin, statistik menunjukkan kalau film ini sudah ditonton 4.000.000 orang. Empat. Juta. Orang. Dalam waktu 12 hari. Hal ini tentu membuatku bertanya-tanya, memang sebagus apa, sih, filmnya? Meski aku merasa bahwa banyaknya penonton bukan berarti film itu bagus.

Aku punya beberapa analisis mengapa Dilan 1990 laku keras. Pertama, Dilan 1990 sudah punya “umat” sendiri. “Umat” dalam artian penggemar setia. Dan “basis massa”-nya menurutku lumayan kuat. Kelompok pertama adalah pembaca novel Dilan 1990 juga penggemarnya Pidi Baiq. Film ini bisa jadi sudah dinanti-nantikan oleh para pembaca Dilan. Aku bilang bisa jadi karena sepertinya tak sedikit juga yang justru kecewa Dilan dijadikan film apalagi pemerannya Iqbal. Kelompok penggemar kedua adalah penggemar Iqbaal. Bisa dari Co-Mate (fans-nya CJR) atau penggemar baru yang kepincut liat Iqbaal remaja yang makin cakep (termasuk aku). Kelompok penggemar ketiga adalah penggemar pemeran Disa, Zara JKT48. Penggemar Zara tentu ga akan melewatkan penampilan Zara di film pertamanya, meski cuma beberapa menit. Tapi ya, gimana, ya, Disa eh Zara emang imut banget.

dilan 3
Sumber: IDNtimes

Kedua, rasa penasaran yang menggiring orang-orang untuk nonton Dilan. Orang-orang yang penasaran ini beda dari orang dari kelompok di alasan pertama, ya. Bisa jadi orang-orang yang penasaran ini benar-benar bukan kelompok penggemar. Sekadar movie goer atau ya, murni penasaran seperti apa cerita filmnya. Ditambah lagi ketika mendengar kabar bahwa filmnya sudah ditonton berjuta-juta orang dalam waktu tayang yang singkat. Makin, penasaran, kan?

Ketiga, orang-orang yang gak mau ketinggalan tren dan pengen eksis di media sosial. Di era media sosial seperti saat ini, buat sebagian orang, kalau gak ikutan tren dan mengunggahnya di akun media sosial, rasanya ada yang kurang, gitu. Jadilah ikutan berbondong-bondong ke bioskop untuk nonton dan mengunggah aktivitasnya di akun media sosial. Kayak begini tentu ga salah. Jadi salah kalau merekam filmnya untuk diunggah ke instastory, misalnya.

Keempat dan terakhir, alasan orang nonton Dilan 1990 apalagi sampai beberapa kali, kurasa ada yang seperti ini, tak lain dan tak bukan adalah karena pada dasarnya kita kadang butuh cerita cinta yang sederhana dan cheesy. Dilan 1990 itu asli, cheesy banget. Tapi kadang kita, oke, aku, butuh cerita cinta yang sederhana, polos, dan cheesy di tengah dunia yang makin keras ini. Gak sedikit orang yang berkomentar bahwa nonton Dilan bikin mereka ingat masa-masa SMA. Atau ingat cinta pertama mereka. Kurasa faktor nostalgia ini juga yang bikin orang pengen nonton Dilan atau mengulang menontonnya.

Dilan 1990 cuma kisah cinta anak SMA di tahun 1990. Gak pake drama cinta segitiga (Beni, pacarnya Milea ga kuhitung karena pada dasarnya Milea sudah suka sama Dilan) ataupun friendzone. That’s it. Nyaris gak ada konflik dalam film ini. Namun, bukan berarti filmnya jadi membosankan. Oke, jujur, di awal-awal filmnya memang terasa lambat. Tapi interaksi Dilan dan Milea, juga karakternya Dilan bikin film ini sangat menghibur. Ditambah aktingnya Iqbaal yang “ternyata” pas banget meranin Dilan. Vanesha juga bagus meranin Milea. Aku ga bisa mengabaikan tatapannya pas dibonceng Dilan. Tapi, ya, kalau aku dibonceng Iqbaal aku juga kayak Milea kali, ya. Menatap penuh cinta.

dilan 2
sumber: tempo.co

Analisisku di atas cuma mengandalkan common sense saja. Namun, di atas semuanya, Dilan 1990 film yang menghibur dan sangat patut untuk ditonton, siapa pun kalian, penggemar atau bukan. Penasaran atau sekadar pengen eksis. Juga yang ingin bernostalgia.

 

 

30 1/2

Aku lupa tepatnya, entah akhir tahun atau awal tahun ini, seorang temanku bertanya, bagaimana rasanya berusia 30 tahun. Saat itu seketika aku langsung membalas dengan kutipan dari drama Korea Selatan favoritku ini.

QuickMemo+_2017-12-26-15-48-18

Aku bersyukur hidupku biasa-biasa saja. Namun, aku tak bisa berhenti merasa bahwa menjadi orang dewasa berusia 30 tahun itu, kadang menyedihkan. Mungkin karena seperti karakter dalam drakor favoritku tadi, aku tidak benar-benar tahu apa yang akan atau harus aku lakukan di usiaku yang sekarang. Mungkin juga karena aku merasa, duh, aku tua banget. Jadi, pada jawaban selanjutnya untuk pertanyaan temanku tadi, aku bilang, being 30 sucks (sometimes).

Dan di antara kadang-kadang tadi, aku juga merasa semua tidak seburuk caraku menggambarkannya dalam satu kalimat di atas. Misalnya soal wajah. Ya, wajah. Suhay Salim, seorang beauty vlogger pernah bilang bahwa dia ga sabar untuk lekas berusia 30 tahun, salah satu alasannya dia melihat wajah orang semakin “jadi” saat berusia 30 tahun(-an). Dan aku mengamini hal ini. Coba lihat foto-foto lama saat kita (atau kamu) anak-anak atau remaja. Akan terlihat jelas bahwa makin lama wajah kita makin “jadi”. Makin terlihat matang. Makin ganteng dan cantik. Ya, meski nantinya akan menua dan keriput. Oleh karena itu, bagus juga kalau mulai pakai perawatan kulit anti-aging sekarang.

Saat aku menulis ini, usiaku kira-kira 30 1/2 tahun. Aku masih punya setengah tahunan lagi untuk menjalani usia 30 tahun. Namun, jujur aku sudah tak sabar memberi “petuah” kepada siapa pun yang masih berusia 20 tahunan di luar sana. Sombong, ya.

Hal pertama yang ingin aku katakan adalah, tak ada yang permanen di dunia ini. Terutama soal karier. Kalau saat ini kamu berada di puncak karier, jadi CEO, disayang atasan, atau apa lah, itu tidak akan berlangsung selamanya. Semua orang bisa digantikan. Jadi, ada baiknya tak lekas merasa nyaman atau malah jemawa.

Sebaliknya, kalau saat ini kamu masih belum punya pekerjaan mapan, atau skripsi belum kelar, atau tidak sekeren postingan teman-teman sebaya, jangan terlalu khawatir. Itu juga tak akan berlangsung selamanya. Jadi, jangan menyerah dulu.
Tak ada yang permanen di dunia ini. Jangan lekas berhenti, juga jangan cepat menyerah. Lha orang pacaran bertahun-tahun saja bisa putus dan berakhir dengan yang lain di pelaminan, kok.

Hal kedua, dan menurutku ini saran yang tak akan pernah usang bagi usia berapa pun, jaga kesehatan. Tak pernah terlalu muda untuk menjaga kesehatan. Dan meski terdengar klise, kesehatan itu penting. Juga jangan menunggu sakit untuk menyadarinya. Sakit itu gak enak. Apalagi kalau penyakit yang dampaknya tak bisa diperbaiki. Gagal ginjal misalnya. (*brb minum air putih dulu*).

Jaga kesehatan sebisa mungkin, nge-gym, lari, diet, ga makan gorengan, tidur lebih cepat. Apa pun, meski kalau boleh menambah pantangannya, aku tidak menyarankan mengonsumsi suplemen. Aku pribadi lebih suka yang alami. Makan buah yang banyak. Makan sayur. Minum air putih. Sebisa mungkin jangan terlalu sering begadang.

Kupikir, ini hal penting yang aku pelajari sebagai seseorang yang berusia 30 1/2 tahun, dan yang ingin aku bagikan pada mereka yang lebih muda. (Eww, sounds old). Aku akan menutup tulisan ini dengan kutipan dari drakor favoritku saat ini.

QuickMemo+_2018-01-18-09-29-21
credit: anidrama Tumblr

 

 

 

Antusiasme Januari

Aku kesulitan mengingat apakah aku punya atau bikin resolusi atau tidak untuk tahun ini. Yang aku ingat, aku ingin 2017 lekas berakhir. Mungkin karena 2017 terasa tak lagi menjanjikan dan absurd hingga aku ingin 2017 lekas berlalu. Mungkin juga karena aku punya harapan 2018 menjadi lebih baik. Atau karena ada banyak hal yang ingin kulakukan di tahun 2018. Namun, semua lekas menguap di pertengahan Januari ini. Antusiasmeku menyambut 2018 mulai memudar. Kupikir, this will be just another year.
Seperti yang ibuku bilang, aku orangnya gampang bosan. Aku ingin melawan label ini. (Moms anywhere, please, please, please, dont label your kid.) Namun, aku mendapati diriku memang lekas bosan. Misalnya, bulan ini aku ikut 30 Hari Bercerita di Instagram, hari kesepuluh, aku sudah bosan. Bukan lantaran aku tak ada ide. Ya, bosan. Menulis di Instagram menjadi rutinitas. Dan aku merasa ceritaku membosankan. Meski ada beberapa orang yang menyampaikan rasa suka mereka. Atau mungkin aku juga sudah bosan dengan Instagram sendiri?

Berita baiknya, aku masih tetap menulis di Instagram. Posting satu cerita setiap hari. (Tahun ini aku berencana membuat serial dengan tagar #AndaiPintuBercerita. Akun instagramku di sini, btw). Meski hari ini tiba-tiba tak ingin posting lagi. Mungkin memang harus begitu melawan bosan. Paksa terus. Mungkin begitu juga seharusnya melawan rasa malas. Paksa terus.
Sisi lain diriku sedang berkata aku seharusnya menulis semua hal yang ingin aku lakukan. Buat jadwal. Tempel di rumah. Mumpung masih Januari kan, ya? Ini yang aku sebut antusiasme Januari. Masih awal jadi aku masih merasa semua bisa diperbaiki sejak dini. Masih awal jadi ingin mencoba banyak hal lain. Sebelum tiba-tiba bosan menyerang lagi.

Kalau ada yang tahu cara menghilangkan kebosanan, boleh dong berbagi.

By the way, ada yang belum punya kalender? Ada kalender unyu, nih. Sila unduh di sini.